Senin, 20 Juni 2011

SEJARAH RINGKAS NABI MUHAMAD SAW...

SEJARAH RINGKAS Nabi Muhammad SAW

 
Pada abad 6 M, di sebuah kota kecil yang panas dan tandus. Dipenuhi dengan penyembahan terhadap kayu-kayu dan batu-batu yang tak dapat berbuat apa-apa dan juga disana terdapat sebuah kotak hitam yang dikelilingi oleh berhala-berhala. Sungguh merupakan kemorosotan moral luar biasa yang dihadapi bangsa jazirah Arabia tempo itu, dan sangat memprihatinkan. Perbuatan-perbuatan buruk dan haram dilakukannya, setiap saat terjadi perampokan, pembunuhan bayi, minum-minuman keras. Tentunya kejadian itu memecahkan kabilah-kabilah.

I. Kelahiran Sang Nabi 

Pada tgl 20, April, tahun 571 M. Dalam keadaan yang sangat kritis ini muncullah sebuah bintang pada malam yang gelap gulita, sinarnya semakin terang membuat malam menjadi terang benderang, ia bukan bintang yang biasa, tapi bintang yang sangat luar biasa, bahkan matahari di siang haripun malu menampakkan sinarnya karena bintang ini adalah maha bintang yang terlahirkan ke muka bumi, ialah cahaya dalam kegelapan, ia adalah cahaya di dalam dada, ia dikenal dengan Nama Muhammad, menurut sejarawan bintang ini tepat terlahir tanggal 17 Rabiul Awwal (12 Rabiâul awwal menurut mazhab sunni) 570 M, bintang ini tak pernah padam walaupun 14 abad setelah ketiadaannya, bahkan ia semakin terang dan semakin terang. Dari bintang ini terlahir 13 bintang yang lain, yang selalu menjadi hujjah bagi bintang-bintang yang sulit bersinar lainnya di setiap zamannya. Ia memiliki silsilah yang berhubungan langsung dengan jawara Tauhid melalui anaknya Ismail AS, yang dilahirkan melalui rahim-rahim suci dan terpelihara dari perbuatan-perbuatan mensekutukan Tuhan. Ia begitu suci sehingga Tuhan memerintahkan kepada Para Malaikat dan Jin untuk bersujud kepada Adam, karena cahayanya dibawa oleh Adam AS. Ia adalah rencana Tuhan yang teramat besar yang langit dan bumi pun tak kan sanggup memikulnya.

Peristiwa kelahiran sang bintang dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang luarbiasa, dimulai dengan peristiwa padamnya api abadi� di kerajaan Persia, hancurnya sesembahan batu di sana, dan penyerangan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah, yang di kemudian hari menjadi kiblat baginya dan ummatnya sampai akhir zaman. Namun tentara yang besar ini dihancurkan oleh burung-burung yang dikirimkan oleh Sang Pemilik kiblat (Ka’bah), karenanya tahun ini dinamakan tahun Gajah. Sudah menjadi tradisi kelahiran manusia luar biasa harus juga didahului peristiwa yang luar biasa.

Muhammad namanya, ayahnya bernama Abdullah, Ibundanya Aminah, kedua orang tuanya berasal dari silsilah yang mulia yang merupakan keturunan Jawara Tauhid (Ibrahim AS). Abdullah lahir kedunia hanya untuk membawa nur Muhammad dan meletakkannya� ke dalam rahim Aminah. Sang isteri saat itu mengandung (2 bulan) bayi yang kelak menjadi manusia besar.

Setelah lama kepergian sang suami, sang isteri merasakan kesepian yang amat dalam, walaupun suaminya selalu berkirim surat. Namun pada saat lain surat tidak lagi ia terima, begitu riang hatinya ternyata ia melihat rombongan dagang suaminya telah pulang, tapi Ia amat terkejut karena tak dilihatnya suaminya. Datanglah seseorang dari rombongan tersebut yang menyampaikan berita kepada Aminah, mulutnya begitu berat untuk mengucapkan kata kata kepada wanita ini, ia tidak sanggup mengutarakannya, namun akhirnya terucap juga bahwa sang suami telah berpulang ke hadirat Allah Swt dan dimakamkan di abwa.

Begitu goncang hatinnya mendengarkan hal ini, tak sanggup menahan tangisnya, ia menangis menahan sedih dan tak makan beberapa hari, namun ia bermimpi, dalam mimpinya seorang wanita datang dan berkata kepadanya agar ia menjaga bayi dalam janinnya dengan baik-baik. Ia berulang kali bermimpi bertemu dengan wanita tersebut yang ternyata adalah Maryam binti Imran (Ibu Isa as). Dalam mimpinya sang wanita mulia ini berkata : Kelak bayi yang ada didalam rahimmu akan menjadi manusia paling mulia sejagat raya, maka jagalah ia baik-baik hingga kelahirannya.

Saat ayahanda Muhammad yang mulia ini Wafat dalam usia 20 tahun (riwayat lain 17 tahun), sang bintang sedang berada dalam kandungan ibunya. Beberapa tahun kemudian Bunda Sang bintang menyusul suaminya dan dimakamkan di Abwa juga. Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman dan diasuh oleh kakeknya. Belum lagi hilang duka setelah ditinggal Sang Bunda, ia pun harus kehilangan kakeknya ketika umurnya belum lagi menginjak delapan tahun.

 Setelah kepergian sang kakek, sang bintang (Muhammad) diasuh oleh pamannya, Abu Tholib seorang putra Abdul Mutholib yang pertama menyatakan keimanannya kepada kemenakannya sendiri (Muhammad). Pemandu ilahi selalu saja dipilihkan oleh Ilahi untuk memiliki profesi sebagai seorang gembala. Melalui profesi ini beliau mengarungi beberapa waktu kehidupannya untuk menjadi gembala� domba yang lebih besar. Inilah pilihan Ilahi yang memilihkan baginya sebuah jalan dimana hal ini penting bagi orang yang akan berjuang melawan orang-orang hina yang berpikiran sampai menyembah aneka batu dan pohon. Ilahi menjadikannya kuat sehingga tidak menyerah kepada apapun kecuali keputusan-Nya.

Ada penulis sirah yang mengutip kalimat Nabi berikut ini. Semua Nabi pernah menjadi gembala sebelum beroleh jabatan kerasulan. Orang bertanya kepada Nabi:� Apakah Anda juga pernah menjadi gembala? Beliau menjawab.�” Ya. Selama beberapa waktu saya menggembalakan domba orang Mekah di daerah Qararit.�

Sang bintang terlahir bukan dari kalangan orang yang teramat kaya, belum lagi ia dilahirkan sebagai seorang yatim, dan telah kehilangan Ayah, Ibu di masa kecil sebagai tempat bernaung, apa yang dapat dikatakan oleh anak kecil yang telah kehilangan kedua orang tuanya sedangkan dia sendiri masih membutuhkan naungan kedua orang tua dan kasih sayang mereka.

Mari kita masuk ke jazirah Arabia lebih jauh lagi, kita dapat melihat bahwa kondisi keuangan Muhammad terbilang cukup sulit. Muhammad terkenal dengan kemuliaan rohaninya, keluhuran budi, keunggulan ahklaq dan dirinya dikenal di masyarakat sebagai orang jujur� (al-Amin), ia menjadi salah seorang kafilah dagang Khodijah yang terpercaya dan Khodijah memberikan dua kali lipat dibandingkan yang diberikannya kepada orang lain.

Kafilah Quraisy, termasuk barang dagangan Khodijah, siap bertolak, kafilah tiba di tempat tujuan. Seluruh anggotanya mengeruk laba. Namun, laba yang diperoleh Nabi lebih banyak ketimbang lain. Kafilah kembali ke Makkah. Dalam perjalanan, Sang bintang melewati negeri Ad dan Tsamud. Keheningan kematian yang menimpa kaum pembangkang itu mengundang perhatian sang bintang.

Kafilah mendekati Mekah, Maisarah, berkata kepada sang Bintang. Alangkah baiknya jika Anda memasuki Mekah mendahului kami dan mengabarkan kepada Khodijah tentang perdagangan dan keuntungan besar yang kita dapatkan. Nabi tiba di Mekah ketika Khodijah sedang duduk di kamar atasnya. Ia berlari turun dan mengajak Nabi ke ruangannya.

Nabi menyampaikan, dengan menyenangkan, hal-hal menyangkut barang dagangan. Maisarah menceritakan tentang Kebesaran jiwa Al-Amin selama perjalanan dan perdagangan. Maisarah menceritakan di Busra, Al-Amin duduk di bawah pohon untuk istirahat. Seorang pendeta, yang sedang duduk di biaranya, melihatnya. Ia datang seraya menanyakan namanya kepada saya, kemudian ia berkata, ˜Orang yang duduk di bawah naungan pohon itu adalah nabi, yang tentangnya telah saya baca banyak kabar gembira di dalam Taurat dan Injil.

Kemudian Khodijah menceritakan apa yang didengarnya dari Maisarah kepada Waraqah bin Naufal, si hanif dari Arabia. Waraqah mengatakan, Orang yang memiliki sifat-sifat itu adalah nabi berbangsa Arab.

II. Pernikahan 

Kebanyakan sejarawan percaya bahwa yang menyampaikan lamaran Khadijah kepada Nabi ialah Nafsiah binti Aliyah sebagai berikut:
Wahai Muhammad! Katakan terus terang, apa sesungguhnya yang menjadi penghalang bagimu untuk memasuki kehidupan rumah tangga? “Kukira usiamu sudah cukup dewasa!� Apakah anda akan menyambut dengan senang hati jika saya mengundang Anda kepada kecantikan, kekayaan, keanggunan, dan kehormatan?” Nabi menjawab, “Apa maksud Anda?...”� Ia lalu menyebut Khodijah. Nabi lalu berkata. “Apakah Khodijah siap untuk itu, padahal dunia saya dan dunianya jauh berbeda?”� Nafsiah berujar “Saya mendapat kepercayaan dari dia, dan akan membuat dia setuju. Anda perlu menetapkan tanggal perkawinan agar walinya (Amar bin Asad) dapat mendampingi Anda beserta handai tolan Anda, dan upacara perkawinan dan perayaan dapat diselenggarakan".

Kemudian Muhammad membicarakan hal ini kepada pamannya yang mulia, Abu Tholib. Pesta yang agung pun diselenggarakan, sang paman yang mulia ini menyampaikan pidato, mengaitkannya dengan puji syukur kepada Tuhan. Tentang keponakannya, ia berkata demikian, “Keponakan saya Muhammad bin Abdullah lebih utama daripada siapapun di kalangan Quraisy. Kendati tidak berharta, kekayaan adalah bayangan yang berlalu, tetapi asal usul dan silsilah adalah permanen".

Waraqah, paman Khodijah, tampil dan mengatakan sambutannya. Tak ada orang Quraisy yang membantah kelebihan Anda. Kami sangat ingin memegang tali kebangsawanan Anda. Upacara pun dilaksanakan. Mahar ditetapkan empat puluh dinar-ada yang mengatakan dua puluh ekor unta.

Sang bintang sekarang mulai dewasa, ia mempunyai seorang istri yang begitu lengkap kemuliaannya. Dari perkawinan ini Khodijah melahirkan enam orang anak. Dua putra, Qasim, dan Abdulah, yang dipanggil At-Thayyib, dan At-Thahir. Tiga orang putrinya masing-masing Ruqayyah, Zainab, Ummu Kaltsum, dan Fatimah. Kedua anak laki-lakinya meninggal sebelum Muhammad diutus menjadi Rosul.

Ketika umur sang bintang mulai menginjak 35 tahun, banjir dahsyat mengalir dari gunung ke Kabah. Akibatnya, tak satu pun rumah di Makah selamat dari kerusakan. Dinding kabah mengalami kerusakan. Orang Quraisy memutuskan untuk membangun Kabah tapi takut membongkarnya. Walid bin Mughirah, orang pertama yang mengambil linggis, meruntuhkan dua pilar tempat suci tersebut. Ia merasa takut dan gugup. Orang Mekah menanti jatuhnya sesuatu, tapi ketika ternyata Walid tidak menjadi sasaran kemarahan berhala, mereka pun yakin bahwa tindakannya telah mendapatkan persetujuan Dewa. Mereka semua lalu ikut bergabung meruntuhkan bangunan itu.

Pada saat pembangunan kembali kabah, diberitahukan pada semua pihak sebagai berikut. Dalam pembangunan kembali Kabah, yang dinafkahkan hanyalah kekayaan yang diperoleh secara halal. Uang yang diperoleh lewat cara-cara haram atau melalui suap dan pemerasan, tak boleh dibelanjakan untuk tujuan ini. Terlihat bahwa ini adalah ajaran para Nabi, dan mereka mengetahui tentang kekayaan yang diperoleh secara tidak halal, tetapi kenapa mereka masih melakukan hal demikian? Inipun terjadi di zaman ini, di Indonesia. Rakyat ataupun pemerintahnya mengetahui tentang halal dan haramnya suatu harta kekayaan atau pun perbuatan yang salah dan benar, tapi mereka masih saja melakukan perbuatan itu walaupun tahu itu adalah salah.

Mari kita kembali lagi menuju Mekah. Ketika dinding kabah telah dibangun dalam batas ketinggian tertentu, tiba saatnya untuk pemasangan Hajar Aswad pada tempatnya. Pada tahap ini, muncul perselisihan di kalangan pemimpin suku. Masing-masing suku merasa bahwa tidak ada suku yang lain yang pantas melakukan perbuatan yang mulia ini kecuali sukunya sendiri. Karena hal ini, maka pekerjaan konstruksi tertunda lima hari.

Masalah mencapai tahap kritis, akhirnya seorang tua yang disegani di antara Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Makhzumi, mengumpulkan para pemimpin Quraisy seraya berkata.�”Terimalah sebagai wasit orang pertama yang masuk melalui Pintu Shafa. (buku lain mencatat Bab as-salam). Semua menyetujui gagasan ini. Tiba-tiba Muhammad muncul dari pintu. Serempak mereka berseru,”Itu Muhammad, al-Amin. Kita setuju ia menjadi wasit!”

Untuk menyelesaikan pertikaian itu, Nabi meminta mereka menyediakan selembar kain. Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain itu dengan tangannya sendiri, kemudian meminta tiap orang dari empat sesepuh Mekah memegang setiap sudut kain itu. Ketika Hajar Aswad sudah diangkat ke dekat pilar, Nabi meletakkannya pada tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan cara ini, beliau berhasil mengakhiri pertikaian Quraisy yang hampir pecah menjadi peristiwa berdarah.

Tuhan, Sang Maha Konsep sudah membuat konsep tentang semua ini, tanda-tanda seorang bintang telah banyak ia tampakkan pada diri Muhammad. Dari batinnya yang mulia sampai pada bentuk lahirnya yang indah. Kesabaran yang diabadikan di dalam Kitab suci menjadi bukti yang tak terbantahkan, bahwa ia adalah manusia sempurna, dalam wujud lahiriah (penampakan), maupun batinnya. Tidak setitik cela apalagi kesalahan selama hidupnya, Sang Maha Konsep benar-benar telah mengonsepnya menjadi manusia ilahiâh.

Al-Amin telah dikenal oleh masyarakat Mekah, sebagai manusia mulia, sebagai manifestasi wujud kejujuran mutlak. Sebelum pengutusannya menjadi Rosul, Muhammad selalu mengamati tanda kekuasaan Tuhan, dan mengkajinya secara mendalam, terutama mengamati keindahan, kekuasaan, dan ciptaan Allah dalam segala wujud. Beliau selalu melakukan telaah mendalam terhadap langit, bumi dan isinya. Beliau selalu mengamati masyarakatnya yang rusak, dan hancur, beliau mempunyai tugas untuk menghancurkan segala bentuk pemberhalaan. Apalah kiranya yang membuat masyarakatnya seperti ini, ia mengembalikan semua ini kepada Tuhan, yang menurutnya tak mungkin sama dengan manusia.

Gunung Hira, puncaknya dapat dicapai kurang lebih setengah jam, gua ini adalah saksi atas peristiwa menyangkut sahabat karibânya (Muhammad). Gua ini menjadi saksi bisu tentang wahyu, dan seakan-akan ia ingin berkata,� “disinilah dulu anak Hasyim itu tinggal, yang selalu kalian sebut-sebut, disinilah ia diangkat menjadi Rosul, disinilah Al-Furqon pertama kali dibacakan, wahai manusia, bukankah aku telah mengatakannya, kalianlah (manusia) yang tak mau menengarkannya, kalian menutup telinga kalian rapat-rapat, dan menertawakanku, sedangkan sebagian dari kalian hanya menjadikan aku sebagai museum sejarah saksi bisu.
 
III. Diangkat Menjadi Rasul 

Hira, tempat diturunkannya kalimat Tuhan Yang Maha Sakti, kalimat yang membuat iblis berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta berguncang. Al-Qurân, susunan kalimatnya yang mengandung makna yang banyak telah membuat tercengang manusia-manusia manapun di jagat raya, yang mengakui kebenarannya, akan mengikutinya, sedangkan yang tidak mengakuinya harus tunduk atas kebenarannya, dan bagi mereka yang menolak, dengan cara apapun akan sia-sia, dan celaka. Jibril (Ruh Al-Qudus) diutus Tuhan semesta Alam, Sang Pemilik Konsep, untuk menyampaikan kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada Al-amin yang berada di Gunung Hiraâ. Al-Amin telah mempersiapkan dirinya selama empat puluh tahun untuk memikul tugas yang maha berat ini. Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa kalimat dari Tuhannya. Ialah kalimat pertama yang dikemukakan dalam Al-qurân sebagai berikut

Bacalah dengan [ menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajari [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini dengan tegas menyatakan tentang program Nabi, dan menyatakan dalam istilah-istilah jelas bahwa fondasi agamanya diberikan dengan pengkajian, pengetahuan, kebijaksanaan, dan penggunaan pena.

Muhammad, pembawa berita bahagia, ancaman, dan perintah merupakan manusia teladan sepanjang masa, ia adalah manusia dalam wujud Ilahiah, utusan Tuhan yang kepadanya ummat manusia memohonkan syafa’at. Tidak satupun mahkluq yang mencapai kesempurnaan yang dicapai Muhammad. Sejak kecil ia telah memperlihatkan ketulusan, kejujuran, manusia yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong, yang tidak pernah menghianati janji, dan sayang kepada yang miskin.

Malaikat Jibril menyelesaikan tugasnya menyampaikan wahyu itu, dan Muhammad pun turun dari Gua Hira menuju rumah Khodijah. Jiwa agung Nabi disinari cahaya wahyu. Beliau merekam di hatinya apa yang didengarnya dari malaikat Jibril. Setelah kejadian ini, Jibril menyapanya,�”Wahai Muhammad! Engkau Rosul Allah dan aku Jibril.” Muhammad menerima kalimat Tuhannya secara bertahap, secara berangsur-angsur, fakta sejarah mengakui bahwa di antara wanita, Khodijah adalah wanita yang pertama memeluk Islam, dan pria pertama yang memeluk Islam adalah Ali.

Muhammad mengadakan perjamuan makan dengan kerabatnya, selesai makan, beliau berpaling kepada para sesepuh keluarganya dan memulai pembicaraan dengan memuji Allah dan memaklumkan keesaan-Nya. Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya, pemandu suatu kaum tak pernah berdusta kepada kaumnya. Saya bersumpah demi Allah yang tak ada sekutu bagi-Nya bahwa saya diutus oleh Dia sebagai Rosul-Nya, khususnya kepada Anda sekalian dan umumnya kepada seluruh penghuni dunia. Wahai kerabat saya! Anda sekalian akan mati. Sesudah itu, seperti Anda tidur, Anda akan dihidupkan kembali dan akan menerima pahala menurut amal Anda. Imbalannya adalah surga Allah yang abadi (bagi orang lurus) dan neraka-Nya yang kekal(bagi orang yang berbuat jahat).

 Lalu beliau menambahkan, “Tak ada manusia yang pernah membawa kebaikan untuk kaumnya ketimbang apa yang saya bawakan untuk Anda. Saya membawakan kepada Anda rahmat dunia maupun Akhirat. Tuhan saya memerintahkan kepada saya untuk mengajak Anda kepada-Nya. Siapakah diantara Anda sekalian yang akan menjadi pendukung saya sehingga ia akan menjadi saudara, washi (penerima wasiat), dan khalifah (pengganti) saya?”

Ketika pidato Nabi mencapai poin ini, kebisuan total melanda pertemuan itu. Ali, remaja berusia lima belas tahun, memecahkan kebisuan itu. Ia bangkit seraya berkata dengan mantap, “Wahai Nabi Allah, saya siap mendukung Anda.”� Nabi menyuruhnya duduk. Nabi mengulang tiga kali ucapannya, tapi tak ada yang menyambut kecuali Ali yang terus melontarkan jawaban yang sama. Beliau lalu berpaling kepada kerabatnya seraya berkata, ” Pemuda ini adalah saudara, washi, dan khalifah saya diantara kalian. Dengarkanlah kata-katanya dan ikuti dia".

Pemakluman khilafah (imamah) Ali di hari-hari awal kenabian Muhammad memperlihatkan bahwa dua kedudukan ini berkaitan satu sama lain. Ketika Rosulullah diperkenalkan kepada masyarakat, khalifahnya juga ditunjuk dan diperkenalkan pada hari itu juga. Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa kenabian dan imamah merupakan dua hal yang tak terpisahkan.

Peristiwa diatas membuktikan heroisme spiritual dan kebenaran Ali. Karena, dalam pertemuan di mana orang-orang tua dan berpengalaman tenggelam dalam keraguan dan keheranan, ia menyatakan dukungan dan pengabdian dengan keberanian sempurna dan mengungkapkan permusuhannya terhadap musuh Nabi tanpa menempuh jalan politisi yang mengangkat diri sendiri. Kendati waktu itu ia yang termuda diantara yang hadir, pergaulannya yang lama dengan Nabi telah menyiapkan pikirannya untuk menerima kenyataan, sementara para sesepuh bangsa ragu-ragu untuk menerimanya.

Setelah berdakwah kepada kaum kerabatnya, Nabi berdakwah terang-terangan kepada kaum Quraisy. Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan orang-orang musrik yang terus menghardik dan mengejeknya. Banyak yang cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan Muhammad.

Suatu saat Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya. Juru bicara rombongan yang mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan dengan berkata,�”Wahai Abu Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya. Jika ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan kami akan mengikuti perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya.”

Abu Tholib berpaling kepada Nabi seraya berkata. “Para sesepuh anda datang untuk meminta Anda berhenti mengkritik berhala supaya mereka pun tidak mengganggu Anda.” Nabi menjawab, “Saya tidak menginginkan apa pun dari mereka. Bertentangan dengan empat tawaran itu, mereka harus menerima satu kata dari saya, yang dengan itu mereka dapat memerintah bangsa Arab dan menjadikan bangsa Ajam sebagai pengikut mereka.” Abu Jahal bangkit sambil berkata, “kami siap sepuluh kali untuk mendengarnya.”� Nabi menjawab,� “kalian harus mengakui keesaan Tuhan.”� Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak mereka berkata, “Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan dan menyembah kepada satu Allah saja?”

Orang Quraisy meninggalkan rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan. Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka. Dalam ayat berikut, kejadian itu dikatakan,
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata,Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka [seraya berkata], Pergilah kamu dan tetaplah [menyembah] tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini; ini(mengesakan Allah) tidak lain kecuali dusta yang diada-adakan.

Banyak sekali contoh penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi menghadapi penganiayaan baru. Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Muâith melihat Nabi bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut kepada Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi. Nabi menyadari dan prihatin terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau mendapat dukungan dan lindungan Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan pria serta beberapa orang tak terlindung.

Para pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus , para pemimpin terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk Islam. Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut hijrah, Nabi menjawab, “Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat dan adil, dan tak ada orang yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik dan bersih, dan Anda boleh tinggal di sana sampai Allah menolong Anda.”

Pasukan Syirik Quraisy kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad, maka mereka melakukan propaganda anti Muhammad, diantaranya mereka memfitnah Nabi, Bersikeras menjuluki Nabi Gila, larangan mendengarkan Al-Qurân, menghalangi orang masuk Islam, sehingga Allah mengabadikan perkataan orang-orang keji ini dan menunjukkan sesatnya perkataan mereka, dalam Al-Qurân Allah berfirman

Demikianlah, tiada seorang rosul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka selain mengatakan, Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu ? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.�

Kaum Quraisy pun gagal melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha Muhammad, dan menghalangi orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang Esa. Mereka pun melakukan Blokade ekonomi yang membuat banyak kaum muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak kelaparan. Nabi dan para pengikutnya masuk ke Syiâib Abu Tholib, yang diikuti pendamping hidupnya, Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang Quraisy mengepung mereka di Syiâib itu selama tiga tahun. Dan akhirnya tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah sang bintang bersama keluarga dan sahabatnya dari pengepungan.

Allah telah menetapkan kemenangan bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula keluar dari pengepungan dalam keadaan amat berat dan menderita. Beliau telah hidup dengan kehidupan yang menjadi teladan Istimewa bagi kalangan kaum wanita. Ajal Khodijah sudah dekat. Allah telah memilihnya untuk mendampingi Rosulullah Saww., dan dia telah berhasil menunaikan tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun itu juga. Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari blokade orang-orang Quraisy, tahun kesepuluh sesudah Kenabian. Pada tahun yang sama, paman Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa Muhammad.

Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah, dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka tahun ini dinamakan Am Al-Huzn (Tahun Duka cita). Bukan hanya Rosul yang terpukul hatinya, Fatimah, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya. Kedukaan menyelimuti dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu. Fatimah kehilangan ibundanya, berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya. Acap kali dia bertanya kepada ayahandanya, “Ayah, kemana Ibu?” Kalau sudah begini, tangisnya pecah, air matanya meleleh, dan kesedihan menerpa hatinya. Rosul merasakan betapa berat kesedihan yang ditanggung putrinya.

Setelah wafatnya Abu Tholib kaum Kafir Quraisy semakin berani menganggu Muhammad. Akhirnya Muhammad berhijrah ke Yastrib, peristiwa hijrahnya Nabi ke Yastrib, merupakan momen awal dari lahirnya negara Islam. Penduduk Yastrib bersedia memikul tanggung jawab bagi keselamatan Nabi. Di bulan Robiâul Awwal tahun ini, saat hijrahnya Nabi terjadi, tak ada seorang muslim pun yang tertinggal di Mekah kecuali Nabi, Ali dan Abu Bakar, dan segelintir orang yang ditahan Quraisy atau karena sakit,dan lanjut usia.

Kaum Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh Muhammad di malam hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil, sehingga Bani Hasyim tidak dapat menuntut balas atas kematian Muhammad. Orang-orang ini memang bodoh, mereka mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti ini, seperti urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi tentang rencana kejam kaum kafir itu. Al-Qurân merujuk pada kejadian itu dengan kata-kata.

Dan [ingatlah] ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

Ali berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam menggantikan Nabi, sejak sore. Ia bukan orang tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan nyawanya untuk sang Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang pertama-tama beriman kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk Nabi, Ali, sekali lagi Ali. Kepadanya Nabi berkata,�”Tidurlah di ranjang saya malam ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena musuh telah bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib. Ali menempati ranjang Nabi sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat, empat puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di kamar itu adalah Nabi.

IV. Hijrah

Kini tiba fajar. Semangat dan gairah besar tampak di kalangan musyrik itu. Mereka begitu yakin akan segera berhasil. Dengan pedang terhunus mereka memasuki kamar Nabi, yang menimbulkan suara gaduh. Serentak Ali mengangkat kepalanya dari bantal dan menyingkirkan selimutnya lalu berkata dengan sangat tenang.�”Apa yang terjadi ?”� Mereka menjawab,”kami mencari Muhammad. Di mana dia?”� Ali berkata, “Apakah anda menitipkannya kepada saya sehingga saya harus menyerahkannya kembali kepada Anda? Bagaimanapun, sekarang ia tak ada di rumah. Muhammad telah pergi jauh di luar pengetahuan mereka.”

Nabi, tiba di Quba tanggal 12 Rabiâul Awwal, dan tinggal di rumah Ummu Kultsum ibn al-Hadam. Sejumlah Muhajirin dan Ansor sedang menunggu kedatangan Nabi. Beliau tinggal di situ sampai akhir pekan. Sebagian orang mendesak agar beliau segera berangkat ke Madinah, tetapi beliau menunggu kedatangan Ali. Orang Quraisy mengetahui hijrahnya Ali dan rombongannya, diantaranya ialah Fatimah, puteri Nabi, Fatimah binti Asad dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutholib. Karena itu, mereka memburunya dan berhadap-hadapan dengan dia di daerah Zajnan.

Perselisihan pun terjadi dan Ali berkata “Barangsiapa menghendaki tubuhnya terpotong-potong dan darahnya tumpah, majulah!” Tanda marah nampak di wajahnya. Orang-orang Quraisy yang merasa bahwa masalah telah menjadi serius, mengambil sikap damai dan berbalik pulang. Ketika Ali tiba di Quba, kakinya berdarah, dikarenakan menempuh perjalanan Makah Madinah dengan berjalan kaki. Nabi dikabari bahwa, Ali telah tiba tapi tak mampu menghadap beliau. Segera nabi ke tempat Ali lalu merangkulnya. Ketika melihat kaki Ali membengkak, air mata Nabi menetes.

Penduduk Yastrib yang kemudian berganti menjadi nama Madinah - menyambut kedatangan Nabi. Mereka mengucapkan berbagai macam syair untuk menyambut manusia mulia ini. Disinilah manifestasi sebuah negara Islam pertama kali didirikan. Muhammad menyusun kekuatannya di Madinah bersama keluarga dan sahabat setianya yang rela meninggalkan tanah air dan hartanya untuk Tuhannya. Islam yang muda ini menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang setiap saat siap untuk menghancurkan Islam yang dibangun ini.

Perang demi perang mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, yang disetiap perang tampillah Al-Washi Muhammad yang selalu menjadi pemberi moral kepada pasukan untuk menghancurkan kafir Quraisy dengan Iman yang membara. Pada perang Badar al-washi (Ali) dan Hamzah tampil menghadapi pemberani kafir Quraisy, dalam sepucuk suratnya kepada Muawiyah, Ali mengingatkannya dalam kata-kata “Pedang saya yang saya gunakan untuk membereskan kakek anda dari pihak ibu (Utbah, ayah dari Hindun Ibu Muawiyah), paman anda dari pihak Ibu (Walid bin Uthbah) dan saudara Anda (Hanzalah) masih ada pada saya.”

Pada perang Uhud Nabi dan lagi-lagi Hamzah dan Ali tidak pernah Absen, Ali adalah pembawa panji dalam setiap peperangan. Nabi mengungkapkan nilai pukulan Ali pada perang Khandaq (parit) disebut juga dengan Ahzab kepada Amar bin Abdiwad itu.�”Nilai pengorbanan itu melebihi segala perbuatan baik para pengikutku, karena sebagai akibat kekalahan jagoan kafir terbesar itu kaum Muslim menjadi terhormat dan kaum kafir menjadi aib dan terhina".

V. Benteng Khaibar

Pada perang Khaibar ketika semangat kaum muslim mengendur dan merasa tidak mampu untuk menghancurkan benteng Khaibar, orang-orang menunggu dengan gelisah dan ketakutan, karena sebelumnya Abu Bakar dan Umar tidak ada yang mampu menghancurkan benteng, bahkan Umar memuji keberanian pemimpin benteng, Marhab,yang luar biasa yang membuat Nabi dan para komandan Islam kecewa atas pernyataan Umar ini.

Kebisuan orang-orang sedang menunggu dengan gelisah dipecahkan oleh kata-kata Nabi.� “Dimanakah Ali?” Dikabarkan kepada beliau bahwa Ali menderita sakit mata dan sedang beristirahat di suatu pojok. Nabi bersabda,�”panggil dia.”� Ali diangkut dengan unta dan diturunkan di depan kemah Nabi. Pernyataan ini menunjukkan sakit matanya demikian serius sampai tak mampu berjalan. Nabi menggosokkan tangannya ke mata Ali seraya mendoakannya. Mata Ali langsung sembuh dan tak pernah sakit lagi sepanjang hidupnya.

Nabi memerintahkan Ali maju, menurut riwayat pintu benteng Khaibar itu terbuat dari batu, panjangnya 60 inci, dan lebarnya 30 inci. Mengutip kisah pencabutan pintu benteng Khaibar itu dari Ali melalui jalur khusus “Saya mencabut pintu Khaibar dan menggunakannya sebagai perisai. Seusai pertempuran, saya menggunakannya sebagai jembatan pada parit yang digali kaum Yahudi.�Seseorang bertanya kepadanya, “Apakah Anda merasakan beratnya?”� Ali menjawab,� “saya merasakannya sama berat dengan perisai saya.”�

Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lain selain peperangan untuk melawan kebejatan kaum kafir Quraisy, banyak juga peristiwa yang menggembirakan, misalnya peristiwa pernikahan al-Washi dan Fatimah, putri Nabi, perubahan kiblat dari Bait al-Maqdis ke Kabah di Makah. Selain serangan dari luar Kota Madinah, kaum Yahudi yang berada di dalam kota selalu mencoba melakukan rongrongan terhadap pemerintahan Islam yang masih muda ini, namun Sang Maha Konsep telah menentukan Drama yang berbeda, walaupun mereka mencoba memadamkan nur cahaya-Nya, namun Ia terus menerangi Nur Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu benci.

VI. Fath Makkah

Tahun kedelapan Hijrah, perjanjian Hudaibiyah dikhianati oleh orang-orang Quraisy mekah, Nabi segera mengeluarkan perintah kesiagaan umum. Beliau siapkan pasukan besar yang belum pernah disaksikan kehebatannya selama ini. Ketika pasukan telah lengkap dan siap bergerak, Nabi pun menyampaikan bahwa sasarannya adalah Mekah. Pasukan bergerak laksana migrasi kawanan burung menuju arah selatan. Nabi memerintahkan kepada pasukannya yang berjumlah 10.000 orang untuk membagi diri, dan menyalakan api unggun di malam hari agar pasukan musuh melihat betapa besar pasukan musuh tersebut.

Di dekat kuburan Abu Tholib dan Khodijah yang terletak di punggung Mekah, Gua itu menatap kepada orang yang dulu berada dalam perutnya dalam keadaan terusir yang kini telah berdiri tegap dengan gagah dan dikelilingi puluhan ribu pengikut dan pembelanya. Kaum muslimin membuat kubah untuk Nabi. Dari kubah inilah Nabi mengamati dengan cermat arus pasukan Islam yang masuk ke kota dari empat penjuru. Makkah... Membisu di depan Nabi dan pendukungnya. Ya Mekah membisu dan tidak lagi menyerukan teriakan Firâaun-firâun, digantikan hiruk pikuk suara 10.000 prajurit Muslim yang menggema yang seakan-akan sedang menunggu kedatangan sahabatnya.

Nabi memasuki Mekah dan bertawaf, menghancurkan berhala-berhala bersama al-Washi, tidak ada darah yang tertumpah. Orang-orang Quraisy yang berada di Makkah menunggu bibir Muhammad berucap tentang mereka, apakah yang akan terjadi pada mereka, namun bibir itu begitu mulia untuk menjatuhkan hukuman, ia memberikan kepada mereka yang telah memeranginya pengampunan dan beliau berkata. “Pergilah, Anda semua adalah orang-orang yang dibebaskan!”

Kini, di Shafa, laki-laki yang telah membuat sejarah itu telah kembali, berdiri di depan. Kehidupannya yang sarat dengan berbagai peristiwa dan yang ditangannya tergenggam masa depan yang gemilang. Selama dua puluh tahun penggembalaannya tak pernah henti, ia tak pernah merasakan letih, kesabarannya begitu tinggi, tak pernah menyerah. Orang-orang Quraisy berdesak-desakkan di bukit Shafa untuk memberikan Baâiat.

Setelah penaklukan Mekah masih ada beberapa peperangan besar berlanjut semasa hidup Nabi - yaitu Hunain, Tabuk. Al-Washi tampil dengan gagah perkasa dalam peperangan ini, sesudah membuat kocar-kacir musuh, al-washi segera menghambur untuk bergabung dengan Nabi, ia memutari Nabi, dan menghambur membabat musuh untuk melindungi Nabi, dan pada kali yang lain menemui prajurit musuh yang lari dan menghadang kejaran musuh. Sesudah itu kembali memutari Nabi. Nabi memanggil sahabat-sahabatnya yang lari cerai-berai “Ayyuhan Nas, mau kemana kalian ? Wahai orang-orang yang ikut baiâat al-Ridwan! Wahai, orang-orang yang kepadanya diturunkan surat Al-Baqarah! Wahai orang-orang yang berbaiat di bawah pohon...!”

Orang-orang Madinah yang gagah berani segera sadar akan diri mereka! Dan ingat bahwa hingga saat ini mereka adalah tulang punggung Nabi. Kini Nabi memanggil mereka di tengah 12.000 orang prajurit, dua ribu diantaranya adalah kaum kerabatnya. Mereka segera menghambur ke arah Nabi menyambut panggilannya dengan, “âLabbaik, Labbaik... Kami datang, kami datang...!”�

Pasukan Islam kembali memenangkan pertempuran, peran individual Muhammad dalam menyampaikan risalah agungnya telah selesai. Dan kini tidak bisa melihat pasukannya, untuk kesekian kalinya, mengingat dan mengenang kembali pelajaran yang telah diberikannya selama dua puluh tiga tahun, agar di bisa mengevaluasi dan menelitinya kembali.

VII. Haji Wada

Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan  sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqa’idah, Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak... Seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan, âLabbaik, Allahumma labaik... Labbaik, la syarika laka, ! Aku datang memenuhi panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu...Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu... Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu...

Langit, hingga hari itu, belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan dibawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang bergerak menuju satu arah. Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi kehidupan manusia. Dan sejarah, adalah kakek tua yang terbelenggu dalam pengabdian terhadap kepentingan-kepentingan. Ia adalah tukang cerita yang membacakan hikayat-hikayat Firâun, Kisra dan Kaisar.

Sejarah sekali melihat Muhammad dan orang-orang yang bergerak bersamanya dengan heran! “Aneh sekali. Pasukan apa ini? Komandan berjalan kaki kelelahan, dan pengikut-pengikutnya pun demikian pula.” Nabi memang berjalan kaki bersama umatnya. Sejarah memang mendengar bahwa penguasa itu berada di tengah-tengah pasukan itu, tapi ketika dicari-carinya, dia tak bisa menemukannya. Rombongan itu masuk Mekah 4 Dzulhijjah, disitu telah berkumpul di rumah Allah, Ibrahim, dan Muhammad. Dia juga ingin memperlihatkan kepada Ibrahim, bahwa karya besarnya, kita sudah diantarkan kepada tujuan.

Matahari tepat di tengah siang hari itu. Seakan-akan ia menumpahkan seluruh cahayannya yang memakar ke atas kepala semua orang. Nabi berdiri di depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan yang mengelilinginya. Nabi memulai pidatonya, Rosulullah berkata, “Tahukah kalian, bulan apa ini ?” Mereka serentak menjawab,â€�”Bulan Haram! “
“Ayyuhan Nas, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak tahu, mungkin aku tidak lagi akan bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya... Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu adalah haram bagimu hingga kalian menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya hari dan bulanmu ini. Sesudah itu, kamu sekalian akan menemui Tuhanmu dan ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh, aku telah sampaikan hal ini. Maka, barangsiapa yang masih mempunyai amanat, hendaknya segera disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya.”

Akar-akar syirik telah dihapuskan dari Mekah, dan Mekah menjadi sebuah kota suci bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya muslimin dari seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama, menuju Tuhannya, tidak ada perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya sama dihadapan Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.

Muhammad telah melaksanakan tugasnya, dan sekarang beliau berada di pembaringan. Nabi membuka mata seraya berkata kepada putrinya dengan suara pelan. “Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukurâ.”



VERSI LAIN
Sejarah Rasulullah SAW (Bagian 1)

Posted on March 11, 2008 by nuraiman
    * SALAM MAULIDUR RASUL…JUNJUNGAN BESAR NABI MUHAMAD S.A.W.
    * PADA : 20 MAC 2008


Sejarah Rasulullah SAW (Bagian 1)
Kelahiran Muhammad

 Bangsa Arab di zaman dahulu memiliki kebiasaan menjadikan kejadian besar yang ada sebagai patokan penanggalan. Peristiwa penyerangan pasukan Gajah pimpinan Abrahah yang berniat menghancurkan Kabah di kota Mekah, dianggap sebagai sebuah peristiwa besar yang layak dijadikan patokan penanggalan. Di tahun pertama penanggalan Gajah ini, di kota Mekah dan di tengah keluarga Abdul Mutthalib, lahir seorang bayi yang kelak akan mengubah perjalanan sejalah manusia. Dialah Muhammad putra Abdullah bin Abdul Mutthalib.

Kelahiran bayi ini disambut dengan suka cita oleh keluarga bani Hasyim. Di negeri Persia, kelahiran Muhammad bin Abdillah memadamkan api keramat yang selama seribu tahun tidak padam. Kelahiran Muhammad juga menggoyahkan sendi-sendi istana kaisar Rumawi. Muhammad lahir dengan membawa janji risalah terakhir dari Allah untuk umat manusia.

Masa sebelum kenabian lazim disebut nama jahiliyyah. Kata jahiliyyah diambil dari kata jahl yang berarti bodoh. Dengan demikian, zaman jahiliyyah berarti zaman kebodohan. Memang, bangsa Arab di zaman itu layak mendapat sebutan ini. Karena selain memang tidak mengenal baca tulis, bangsa yang hidup di jazirah Arabia ini juga memiliki kebiasaan dan perilaku bodoh.

Menjadikan berhala-berhala buatan sendiri sebagai tuhan untuk disembah dan dipuja, mengubur anak perempuan hidup-hidup dan bertawaf mengelilingi Kabah dengan cara bertelanjang, merupakan salah satu contoh dari perbuatan bodoh bangsa ini di zaman itu. Muhammad lahir untuk mengikis kebodohan bangsa Arab dan umat manusia secara umum dengan cahaya iman dan ilmu.

Sejak lahir, Muhammad telah menunjukkan kelebihan yang khusus. Kehidupannya yang dimulai dengan keyatiman karena ayahnya telah meninggal dunia sebelum beliau lahir, penuh dengan kesusahan. Kesusahan inilah yang menempa diri Muhammad dan mempersiapkannya untuk menjadi manusia besar dan pemuka bagi seluruh umat sepanjang zaman. Empat tahun, Muhammad hidup terpisah dari sang ibu, Aminah binti Wahb dan tinggal di tengah keluarga Halimah as-Sa’diyah. Setelah berumur empat tahun dengan berat hati, Halimah melepas Muhammad dan mengembalikannya kepada sang ibu.


YATIM PIATU

Dua tahun kemudian, Aminah wafat, dan Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib yang amat menyintai dan menghormatinya. Abdul Mutthalib yang juga pemuka kaum Quresy telah meramalkan bahwa cucunya ini kelak akan menjadi pemimpin besar bagi umat manusia. Karena itulah, kakek tua yang amat berwibawa ini menghormati dan menyintai Muhammad lebih dari cucu-cucunya yang lain.

Diriwayatkan bahwa suatu hari Muhammad duduk di tempat yang dikhususkan untuk Abdul Mutthalib. Orang-orang bangkit untuk melarangnya, tetapi Abdul Mutthalib mengatakan bahwa Muhammad sangat layak untuk duduk di tempat itu.

Namun keteduhan payung Abdul Mutthalib tidak berumur panjang. Menginjak usia delapan tahun, Muhammad harus merelakan kepergian kakeknya itu. Akhirnya Muhammad tinggal dan diasuh oleh Abu Thalib pamannya yang menyintainya lebih dari anak-anak sendiri. Di rumah Abu Thalib inilah, beliau tumbuh hingga menginjak usia remaja remaja.

Saat berusia 12 tahun, Muhammad ikut menyertai pamannya, pergi ke Syam untuk berniaga. Sudah menjadi kebiasaan kafilah dagang dari Mekah untuk singgah beristirahat di tempat pendeta Buhaira. Kafilah Abu Thalib pun singgah di sana. Pendeta Buhaira menyambut kedatangan kafilah itu dengan tangan terbuka. Namun sang pendeta merasa ada keanehan. Kepada Abu Thalib dia mengatakan bahwa dirinya menyaksikan sesuatu yang menakjubkan di kafilah ini.

Abu Thalib yang tidak mengetahui apa maksud sang pendeta menyatakan bahwa dirinya tidak merasakan adanya keanehan. Hanya saja dia meninggalkan kemenakannya yang bernama Muhammad di dalam kemah. Mendengar hal itu, Buhaira meminta Abu Thailb untuk membawa Muhammad masuk ke rumahnya.

Melihat remaja tampan dan sopan itu, Buhaira meminta izin Abu Thalib untuk mengajaknya berbicara secara khusus. Sang pendeta membawa Muhammad ke tempatnya. Gerak-gerik, tutur kata dan jengkal demi jengkal tubuh Muhammad diperhatikannya. Selanjutnya Buhaira memanggil Abu Thalib dan berkata, “Wahai Abu Thalib, kelak kemenakanmu ini akan diangkat menjadi nabi. Dialah nabi yang dinanti-nantikan kedatangannya. Karena itu, bawalah dia kembali ke Mekah dan jangan biarkan kaum Yahudi di negeri Syam menyakitinya.”

Sesuai dengan anjuran pendeta Buhaira, Abu Thalib membawa Muhammad kembali ke Mekah.


GELAR AL-AMIN

Muhammad tumbuh besar menjadi pemuda yang dikenal dengan kejujuran, sehingga beliau mendapat gelar Al-Amin yang berarti orang yang terpercaya. Bagi masyarakat kota Mekah, tidak ada orang yang bisa dipercaya lebih dari Muhammad Al-Amin. Karena itu, ketika Abu Thalib mengusulkan kepada Khadijah binti Khuwailid untuk menjadikan Muhammad sebagai kepercayaan dalam perniagaannya, usulan itu disambut dengan Serta merta. Pada usia 25 tahun, Muhammad melakukan perjalanan niaga ke Syam dengan membawa barang dagangan milik Khadijah, wanita kaya di kota Mekah yang amat disegani.

Untuk memudahkan pekerjaan, Khadijah mengirimkan suruhannya bernama Maisarah untuk menyertai dan membantu Muhammad. Kesopanan pemuda bergelar Al-Amin ini, kejujuran dan kepiawaiannya dalam berdagang menarik perhatian Maisarah. Perniagaan ini, membawa keuntungan yang banyak meski dalam berdagang, Muhammad sangat memperhatikan masalah kejujuran. Seluruh kisah perjalanan ini diceritakan oleh Maisarah kepada Khadijah.


MENIKAH DENGAN SITI KHADIJAH AS

Dengan usul Abu Thalib dan sambutan Khadijah, Muhammad datang meminang wanita mulia ini. Perkawinan antara Muhammad Al-Amin dan Khadijah, disaksikan oleh para malaikat di langit dan bumi. Dari dua manusia mulia ini, kelak akan lahir seorang putri yang menjadi penghulu wanita seluruh jagat, yaitu Fatimah Az-Zahra.


SEJARAH RASULLLAH SAWW… (Bagian 2)
MASA MUDA AL-AMIN DAN RISLAH ILAHIYAH

Sejak kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa, Muhammad dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang memiliki kepribadian agung, jujur, penyantun, gemar menolong mereka yang memerlukan dan berhati besar. Ketinggian akhlak beliau membuat kagum bangsa Arab khususnya suku Quresy di Mekah. Berbeda dengan para pemuda dan masyarakat di zaman itu, Muhammad tidak tertarik kepada kehidupan yang hanya mengejar kesenangan duniawi.

Pemuda putra Abdullah bin Abdul Mutthalib ini gemar menyendiri di lereng-lereng gunung atau di gua Hira untuk menghindari kehidupan syirik dan menyibukkan diri dengan beribadah dan bermunajat kepada Allah. Muhammad biasanya pergi ke gua Hira dengan membawa bekal dan akan turun ke kota jika perbekalan habis. Pergi ke gua Hira, menyendiri dan bermunajat di tempat yang sepi itu seorang diri akhirnya menjadi kegiatan rutin pemuda bergelar Al-Amin ini.

Di Hira, Muhammad menemukan ketenangan tersendiri yang tidak ia dapatkan di Mekah. Akhirnya, pada suatu hari ketika usianya menginjak 40 tahun, saat berada di dalam gua hira, Muhammad mendengar suara yang mengajaknya untuk membaca. Untuk pertama kalinya, Muhammad menerima ayat yang turun dari Allah swt. Iqra bismi rabbikalladzi khalaq, Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Ayat ini adalah yang pertama kalinya turun kepada Muhammad yang menandai kenabiannya.

Tidak sedikit orang yang mempersoalkan mengenai agama Nabi Muhammad SAW sebelum menerima risalah kenabian. Permasalahan mengusik hati ketika menyaksikan bahwa di zaman jahiliyyah, bangsa Arab khususnya di kota Mekah, tempat Rasulullah SAW menjalani kehidupannya, adalah bangsa penyembah berhala. Masing-masing kelompok dan kabilah memiliki berhala tersendiri yang diletakkan di dalam ka’bah atau di komplek masjidul haram. Sementara masing-masing orang memiliki berhala yang khusus yang disimpan di rumah masing-masing atau di kantong khusus agar bisa dibawa ke mana-mana.

Masalah inilah yang lantas melahirkan pertanyaan mengenai agama yang dianut oleh Rasulullah SAW sebelum diangkat menjadi nabi. Masalah kondisi di zaman jahiliyah dan penyembahan berhala yang dianut oleh bangsa Arab secara umum, adalah fakta sejarah yang tidak mungkin ditolak. Namun harus diingat bahwa di jazirah Arabia juga ada agama lain semisal agama Nasrani, Yahudi dan agama Ibrahimi.

Penduduk Najran rata-rata beragama nasrani, sementara di kota Yasrib, nama lain kota madinah, terdapat beberapa kabilah yang menganut agama Yahudi. Selain dua agama itu, tidak sedikit pula yang menganut ajaran Nabi Ibrahim as. Agama Ibrahimi ini dianut oleh sebagian besar bani Hasyim. Bukankah ketika Abdul-Muththalib menamakan anaknya dengan nama Abdullah yang berarti hamba Allah, menunjukkan bahwa tuhan yang sebenarnya di mata Abdul Mutthalib adalah Allah, bukan selain-Nya.

Ketika Allah mengangkatnya menjadi nabi dan utusan-Nya, Muhammad mengatakan kepada umat bahwa dia membawa ajaran Ibrahim. Seruan ini dikarenakan umat mengenal akan keberadaan ajaran yang demikian. Amalan ibadah seperti haji, umrah dan semisalnya yang juga dianut oleh bangsa Arab Jahiliyyah merupakan sisa-sisa ajaran Ibrahim as yang terus dijalankan meski dengan cara yang berbeda dengan ajaran sebenarnya. Semua ini menunjukkan bahwa tidak semua orang Arab di zaman itu menyembah berhala. Jika hal ini bisa diterima, muncul pertanyaan;

Masuk akalkah, orang yang bakal membawa ajaran agama ilahi yang paling sempurna, tetapi tidak mengikuti ajaran Ibrahim dan terjerumus ke dalam kesyirikan penyembahan berhala? Jika Muhammad pernah menyembah berhala, tentunya, saat beliau menyeru kaum Quresy dan bangsa Arab untuk meninggalkan berhala, mereka akan mengingatkan bahwa dia sendiri pernah menyembah berhala. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya rasulullah, apakah engkau pernah menyembah berhala?”

Beliau menjawab, “Sama sekali tidak.”
“Apakah engkau pernah meminum khamar?”
beliau juga menjawab, “Sama sekali tidak pernah.”
Dengan turunnya firman ilahi kepadanya dan turunnya perintah untuk mengajak kaumnya kepada penyembahan tuhan yang maha esa, Nabi Muhammad SAW menyampaikan misi mulia dan agung ini kepada sanak keluarganya. Orang yang pertama-tama menerima ajakan ini adalah Khadijah istri setia Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib yang hidup dalam bimbingan dan asuhan beliau. Ajakan dan seruan Nabi ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan kepada keluarga dekatnya.

Proses dakwah secara sembunyi-sembunyi ini berlangsung selama tiga tahun, sampai akhirnya Allah swt menurunkan ayat yang berisi perintah untuk secara terbuka menyampaikan risalah ilahi ini kepada umat.

Dengan berdiri di atas sebuah bukit, Rasulullah SAW bertanya kepada kaumnya, “Wahai sekalian suku Quresy, jika akan katakan bahwa di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang datang menyerang, apakah kalian akan mempercayai kata-kataku?”
Mereka menjawab, “Ya, pasti, sebab engkau adalah orang yang paling jujur.”

Rasulullah berkata lagi, “Jika demikian, ketahuilah bahwa aku membawa risalah dan ajaran dari Tuhan untuk kalian semua.” Rasulullah menjelaskan risalah yang beliau pikul kepada kaum Quresy. Akan tetapi berbeda dengan pernyataan awal mengenai kejujuran Muhammad Al-Amin, kali ini kaum Quresy yang dimotori oleh para pemukanya yang kafir semisal Abu Sufyan, Abu Jahal dan lainnya menuduh putra Abdullah ini telah membuat kebohongan besar.

Sejak saat itulah, dakwah kepada agama Islam dilakukan secara terbuka. Seiring dengan sambutan orang-orang yang berhati bersih kepada ajaran ini, sikap penentangan dan permusuhan kaum kafir terhadap ajaran ilahi ini juga semakin meningkat. Para pemuka Quresy yang merasa posisi dan kedudukan mereka terancam dengan adanya ajaran ilahi ini, serta merta memgambil sikap frontal terhadap Muhammad, para pengikut dan ajarannya. Dengan memanfaatkan kedudukan, uang dan kekuatan, kaum kafir melakukan penyiksaan terhadap para pengikut ajaran islam.

Bilal bin Rabbah bekas budak Umayyah bin Khalaf, juga Yasir, istrinya Sumayyah dan anaknya Ammar adalah contoh dari kaum muslimin lemah yang menjadi korban penyiksaan. Bahkan Sumayyah dan Yasir gugur syahid setelah menjalani penyiksaan kaum kafir Quresy yang tidak mengenal batas kemanusiaan. Sementara Ammar terpaksa mengeluarkan kata-kata syirik dari mulutnya meski hatinya tetap memegang teguh keimanan.

Gangguan kaum kafir Quresy tidak hanya ditujukan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada pemimpin dan nabi pembawa risalah, Muhammad bin Abdillah SAW. Hanya saja, gangguan itu seberapa karena sikap Abu Thalib yang mati-matian membela Muhammad dan ajarannya. Bagaimanapun juga, Abu Thalib adalah figur yang sangat dihormati oleh kaum Quresy di Mekah. Berkali-kali para pembesar Quresy mendatangi Abu Thalib agar menghentikan aktifitas dakwah Muhammad yang menistakan berhala dan mengajak masyarakat kepada Tuhan yang esa. Meski demikian, Abu Thalib tetap pada pendiriannya untuk membela Muhammad dan ajarannya. Sikap Abu Thalib ini telah menyulut kemarahan para pembesar Quresy yang lantas memutuskan untuk memboikot Bani Hasyim dan para pengikut ajaran Islam.


SEJARAH RASULLULLAH… (Bagian 3)
HIJRAH KE HABASYAH

Pada pembahasan yang lalu telah disinggung bahwa kaum muslimin di kota Mekah, khususnya mereka yang berasal dari kalangan budak atau orang-orang yang memiliki kedudukan sosial rendah, mendapat perlakuan buruk dari kaum kafir Quresy. Tidak sedikit dari mereka yang disiksa dan ada pula yang dibunuh. Kondisi ini sangat menyulitkan umat Islam. Akhirnya, untuk melepaskan diri dari penderitaan dan untuk menjaga agar umat yang baru terbentuk tidak bisa dihancurkan, Rasulullah SAW memerintahkan sekelompok umatnya untuk berhijrah ke negeri Habasyah yang saat itu dipimpin oleh raja Najasyi.

Kelompok muhajirin ke Habasyah dipimpin oleh Ja’far putra Abu Thalib. Kepergian Ja’far dan rombongannya yang berjumlah kurang lebih delapan puluh orang ke Habasyah membuat berang kaum kafir Mekah. Merekapun mengirimkan utusan kepada raja Najasyi untuk menolak kehadiran kaum muslimin di negerinya. Permintaan Quresy tidak langsung dikabulkan oleh Najasyi. Raja yang beragama nasrani ini lantas memanggil Ja’far dan rombongannya ke istana.

Di tempat inilah dan di hadapan raja beserta para penasehat agamanya, Ja’far menjelaskan maksud kedatangannya ke Habasyah. Putra Abu Thalib ini dengan tegas mengatakan bahwa dia dan rombongannya, bukanlah budak yang lari dari tuannya atau pembunuh yang lari dari tebusan darah. Mereka lari dari Mekah hanya untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan dan tekanan yang dilakukan para pemuka Quresy terhadap mereka. Mereka dianggap layak mendapat perlakuan buruk karena telah menyembah Tuhan yang Esa dan menolak sujud kepada berhala.

Penjelasan Ja’far bin Abi Thalib berhasil mematahkan makar utusan Quresy. Raja Najasyi memerintahkan untuk mengembalikan semua hadiah yang dikirim Quresy kepadanya. Utusan Mekah-pun meninggalkan negeri Habasyah. Untuk kaum muhajirin ini, Najasyi memberikan izin tinggal di negerinya dengan aman dan damai sampai kapanpun juga.


PEMBOIKOTAN TERHADAP BANI HASYIM

Di Mekah, kaum kafir Quresy semakin kalap, kala menyaksikan jumlah mereka yang masuk agama Islam semakin bertambah. Pembesar-pembesar Mekah semisal Hamzah bin Abdul Mutthalib juga telah mengumumkan keislamannya. Hal ini membuat para pemuka Quresy berpikir untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi membunuh Muhammad tidaklah mudah. Sebab, bagaimanapun juga, bani Hasyim yang termasuk kelompok bangsawan Quresy tidak akan setuju.

Quresy membujuk Abu Thalib yang dipandang sebagai pelindung utama Rasulullah agar bersedia menerima uang tebusan dua kali lipat dari tebusan biasa, dan membiarkan Muhammad dibunuh. Pembunuhnya akan dipilih dari orang di luar Quresy. Dengan demikian, pembunuhan atas diri Muhammad tidak akan berbuntut pada perang saudara di Mekah. Usulan tersebut dipandang Abu Thalib sebagai tanda keseriusan Quresy untuk membunuh Nabi. Akhirnya Abu Thalib memanggil seluruh anggota keluarga bani Hasyim agar berkumpul di lembah Abu Thalib untuk melindungi Muhammad dari upaya teror yang direncanakan Quresy terhadapnya.

Bulan Muharram tahun ke-7 kenabian, kaum kafir Quresy menyusun sebuah perjanjian yang berisi pemboikotan terhadap bani Hasyim. Berdasarkan perjanjian ini, segala bentuk jual beli, pernikahan dan hubungan dengan bani Hasyim dilarang. Pemboikotan ini telah menyebabkan bani Hasyim yang berada di lembah atau syi’b Abu Thalib kesulitan mendapatkan bahan pangan dan keperluan hidup lainnya.

Pemboikotan ini dimaksudkan untuk memaksa bani Hasyim khususnya Abu Thalib, agar bersedia menyerahkan Muhammad kepada Quresy untuk dibunuh. Tekad mereka untuk menghabisi nabi terakhir ini, sedemikian kuat sehingga Abu Thalib memperkuat penjagaan atas diri Rasulullah. Di malam hari, Abu Thalib memerintahkan salah seorang dari bani Hasyim untuk tidur di pembaringan Rasulullah, demi menjaga keselamatan Nabi bergelar Al-Amin ini.

Kondisi serba sulit ini berlangsung selama tiga tahun. Selama itulah, mereka yang berada di dalam syi’b bergelut dengan rasa lapar dan keterasingan. Pekik tangis anak-anak bayi dari keluarga bani Hasyim yang kelaparan terkadang terdengar sampai ke luar lembah itu. Bagi sebagian orang Quresy, keadaan ini sungguh menyiksa batin mereka. Karena itu, mereka sepakat untuk mencabut boikot atas bani Hasyim.


‘TAHUN KESEDIHAN (‘Amul Huzn )

Tahun sepuluh kenabian, setelah bani Hasyim keluar dari syib Abu Thalib dan terlepas dari pemboikotan, Abu Thalib dan Khadijah binti Khuwailid, paman dan istri Nabi yang selama ini menjadi pelindung dan pembela risalah kenabian, meninggal dunia. Wafatnya kedua manusia agung ini menjadi pukulan berat bagi Nabi. Betapa tidak, di saat kaum Quresy berniat membunuh beliau, Abu Thalib siap berkorban untuk melindungi Rasulullah. Di saat kaum kafir memboikot Nabi secara ekonomi, Khadijah menginfakkan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Tahun 10 kenabian disebut oleh Rasulullah sebagai ‘amul huzn yang berarti tahun kesedihan karena kepergian dua insan pembela risalah kenabian.

Setelah Abu Thalib dan Khadijah wafat, dan setelah menyaksikan penentangan kaum Quresy, Nabi SAW pergi ke kota Thaif untuk mengajak warga di kota itu kepada agama Islam. Tetapi warga Thaif menyambut Nabi dengan lemparan batu dan cacian. Akibat kekurangajaran warga Thaif, malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan meminta izin untuk menghukum mereka. Tetapi nabi yang oleh Allah disebut sebagai orang yang penyayang ini menolak sambial mengatakan, “Ya Allah ampunilah kaumnya, karena mereka tidak mengetahui kebenaran yang aku bawa.”


KEISLAMAN AUS DAN KHAZRAJ

Setelah kembali ke kota Mekah, Nabi memfokuskan dakwahnya kepada suku-suku Arab lainnya yang berdatangan ke kota itu untuk melaksanakan ibadah haji. Dari situlah, beliau berkenalan dengan orang-orang Aus dan Khazraj, penduduk kota Yatsrib yang kemudian berubah nama menjadi Madinah. Di Yatsrib, suku Aus dan Khazraj merupakan musuh bebuyutan yang sejak lama terlibat perang saudara. Di kota itu, hidup pula suku-suku beragama Yahudi yang sering mengabarkan kepada mereka akan kedatangan Nabi di akhir zaman.

Setelah berkenalan dengan Nabi Muhammad SAW dan ajara yang dibawanya, orang-orang dari Aus dan Khazraj menyatakan ikrar keimanan kepada beliau. Mereka bahkan mengingat janji dan baiat dengan Nabi. Orang-orang Aus dan Khazraj yang telah menemukan seorang pemimpin yang dapat mengakhiri permusuhan di antara mereka, menawarkan kepada Rasulullah SAW agar beliau bersedia berhijrah ke kota mereka.

Sesuai dengan tawaran itu, dan dengan perintah Allah swt, Rasul SAW memerintahkan kaum muslimin Mekah untuk berhijrah ke Madinah. Rombongan demi rombongan kaum muslimin Mekah bergerak ke arah Yastrib. Gelombang hijrah ini terus berlanjut dan berpuncak pada hijrah Nabi ke kota itu.


SEJARAH RASULULLAH SAWW… (Bagian 4)
HIJRAH KE MADINAH

Hijrah yang berarti perpindahan dianggap sebagai salah satu ibadah dengan nilai pahala yang tinggi. Dalam banyak ayat Al-Qur’an Allah swt menjelaskan kemuliaan ibadah ini dan menjanjikan ganjaran yang berlipat ganda kepada mereka yang berhijrah. Sebab, selain kesulitan yang dihadapi seorang muhajir baik kesulitan karena meninggalkan negeri asal, kesulitan di negara baru dan banyak hal lain, hijrah juga dimaksudkan untuk menjaga dan memelihara agama dan risalah ilahi yang terakhir ini.

Di negeri yang baru, langkah pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah membangun masjid yang merupakan pusat kegiatan Islam dan pemersatu umat. Masjid pertama yang dibangun di Madinah adalah masjid Quba’ yang oleh Allah disebut sebagai masjid yang dibangun di atas pondasi ketaqwaan. Pembangunan masjid ini dilakukan oleh seluruh umat Islam baik penduduk asli maupun pendatang. Rasul-pun ikut ambil bagian dalam membangun masjid Quba’.


PEMERINTAHAN NABAWI

Langkah berikutnya yang dilakukan Nabi adalah memupuk persaudaraan di antara kaum muslimin. Beliau memerintahkan masing-masing sahabat untuk memilih orang yang akan dijadikan sebagai saudara. Sementara beliau sendiri memilih Ali bin Abi Thalib sebagai saudaranya. Dengan demikian, terciptalah suasana persaudaraan yang kuat di tengah umat Islam pada hari-hari pertama kehadiran Rasulullah SAW di Madinah.

Berikutnya untuk melindungi Madinah dari ancaman yang mungkin datang dari umat lain, Rasulullah SAW mengadakan perjanjian damai dengan umat Yahudi yang berada di sekitar kota Madinah. Sebagaimana yang telah disinggung, suku Aus dan Khazraj sering mendengar janji kedatangan Nabi akhir zaman dari umat Yahudi yang hidup di dekat mereka. Ada tiga kabilah besar Yahudi di Madinah, yaitu, Bani Nadhir, Bani Qainuqa dan Bani Quraidhah. Dengan ketiga kelompok ini, Rasulullah SAW mengikat perjanjian untuk tidak saling mengganggu.

Setelah langka-langkah awal diambil Rasulullah SAW menyibukkan diri dengan membimbing umat kepada ajaran yang diterimanya dari Allah swt. Di kota inilah, beliau mendapatkan wahyu-wahyu yang menjelaskan hukum-hukum syariat secara lebih luas. Wahyu inilah yang kemudian diajarkan Nabi SAW kepada umatnya.


PERANG BADR

Sementara itu, dengan kepergian Nabi ke Madinah, permusuhan kaum kafir Quresy kepada umat Islam masih belum reda. Penyiksaan dan gangguan mereka kepada kaum muslimin yang masih berada di Mekah dan tidak dapat keluar dari kota itu semakin menjadi. Di lain pihak harta benda yang ditinggalkan oleh mereka yang telah berhijrah ke Madinah dirampas oleh Quresy. Hal inilah yang mendasari perintah Rasulullah SAW untuk mencegat kafilah dagang Quresy yang melintas dekat Madinah dalam perjalanan perniagaan menuju Syam atau dari Syam menuju Mekah.

Tahun kedua hijriyah, Rasulullah SAW bersama 313 sahabatnya bergerak menuju Badr untuk mencegat kafilah Quresy yang membawa harta berlimpah hasil dari perniagaan di Syam. Setelah mendengar berita itu, Abu Sufyan, yang memimpin kafilah ini, mengirimkan utusannya ke Mekah untuk meminta bantuan tentara Quresy dalam menghadapi ancaman ini.

Bagi Quresy, pencegatan kafilahnya oleh kaum muslimin tidak hanya berarti kerugian harta tetap juga kehormatan suku besar di Mekah ini. Untuk itu, Abu Jahl yang merupakan salah satu bangsawan terkemuka Quresy bersama seribu orang lengkap dengan peralatan perang meninggalkan kota Mekah dan bergerak menuju Badr. Sementara kafilah pimpinan Abu Sufyan dengan melintasi jalan alternatif berhasil lolos dari sergapan kaum muslimin. Abu Sufyan mengirimakn kurirnya untuk meminta Abu Jahl kembali ke mekah karena bahaya telah berlalu. Namun pesan itu ditolaknya. Abu Jahl bersikeras untuk berhadapan dan terlibat perang dengan pasukan Madinah. Ia berpikir, dengan demikian, umat Islam akan jera atau bahkan terhabisi.

Di Badr, pasukan muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW telah bersiap siaga. Pasukan kecil berjumlah 313 orang dan peralatan yang ala kadarnya, siap menghadapi seribu orang di barisan Quresy yang bersenjata lengkap. Namun keimanan yang dimiliki oleh umat Islam lah yang menjadi mesin pendorong mereka untuk tegar dan siap menanti kematian di jalan Allah yang basalannya adalah surga.

Tanggal 17 Ramadhan tahun kedua hijriyah, perang di Badr berkecamuk setelah diawali dengan duel satu lawan satu antara tiga jawara dari dua barisan. Satu demi satu korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Darah bersimbah di sana sini. Tak lama, berita tersebar bahwa Abu Jahl yang oleh Rasul disebut sebagai Firaun di tengah umat ini tewas di tangan pasukan muslimin. Terbunuhnya Abu Jahal dan beberapa pemuka Quresy di medan perang Badr menjadi pukulan berat bagi pasukan Mekah yang akhirnya memilih untuk melarikan diri.

Dalam perang Badr, pasukan Quresy menderita kerugian tujuh puluh tewas dan tujuh lainnya tertawan. Sementara barang rampasan perang yang ditinggalkan tidak sedikit. Diperkirakan sekitar 150 unta, sepuluh kuda, sejumlah kulit dan kain, serta peralatan perang ditinggalkan oleh pasukan Mekah yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri


PERANG UHUD


Kekalahan Quresy dalam perang Badr menjadi pukulan berat bagi mereka. Betapa tidak, Muhammad dan pengikutnya yang belum lama ini menjadi bulan-bulanan tekanan dan penyiksaan kini telah memiliki kekuatan yang dapat melumpuhkan pasukan Quresy. Untuk itu, para pemuka Mekah merencanakan tindakan balas dendam. Akhirnya diputuskan, bahwa Quresy akan menyerang kaum muslimin di Madinah dengan segenap kekuatan yang ada. Maka dibuatlah persiapan yang matang. Setiap keluarga dari Quresy khususnya, mereka yang salah satu anggotanya terbunuh di perang Badr dikenai kewajiban untuk mendanai perang besar ini.

Setelah segala sesuatunya dirasa matang, pasukan Quresy yang berjumlah 3.000 orang dengan senjata lengkap bergerak ke arah Madinah. Berita bergeraknya pasukan Quresy ke arah Madinah sampai ke telinga Rasul. Beliau lantas mengumpulkan para sahabatnya dan bermusyawarah dengan mereka. Beliau menanyakan pendapat mereka, apakah kaum kafir akan dihadapi di dalam Madinah atau di luar Madinah? Mereka yang lebih muda dan tidak hadir di perang Badr mengusulkan untuk menghadang pasukan Mekah di luar Madinah. Pendapat inilah yang lantas disahkan.

Kaum muslimin yang berjumah sekitar 1000 orang bergerak ke luar kota Madinah. Namun di tengah jalan sebanyak 300 orang termakan oleh tipu daya si munafik Abdullah bin Ubay, dan berpisah dari barisan Rasulullah. Sesampainya di kawasan gunung Uhud, Rasul memerintahkan 50 orang sahabtanya untuk mengambil posisi di bukit Ainain yang kemudian berubah nama menajdi Jabal Rumath atau gunung pemanah. Kepada mereka, beliau berpesan untuk tidak meninggalkan bukit itu, menang atau kalah.

Perang  berkecamuk. Pada awalnya, pasukan muslimin berhasil memukul mundur tentara Mekah. Di saat tentara kafir meningggalkan medan, para pemanah turun dari bukit untuk mengumpulkan rampasan perang. Imbauan Abdullah bin Jubair yang menjadi komandan para pemanah kepada anak buahnya untuk kembali ke posisi asal mereka tidak digubris. Kekosongan ini dimanfaatkan pasukan berkuda Quresy untuk menyerang di balik bukit. Melihat keadaan ini pasukan kafir yang asalnya melarikan diri, kembali ke medan perang. Dengan demikian, posisi kaum muslimin terjepit.

Barisan yang asalnya teratur dan mengendalikan jalannya pertempuran kini tercabik-cabik. Tidak sedikit pejuang muslim yang lari menuju Madinah, setelah isu terbunuhnya Nabi tersebar di tengah medan. Hanya sekelompok kecil yang terus bertahan dan bertarung habis-habisan. Ketangkasan Ali dan keberaniannya dipuji oleh para malaikat. Terdengar suara yang memuji Ali dan pedangnya yang bernama Dzul fiqar, ‘La Fata Illa Ali La Saifa illa Dzulfiqar’, tidak ada yang jantan seperti Ali dan tidak ada pedang seperti Dzul Fiqar.

Sebanyak tujuh puluh orang dari barisan muslimin termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Mutthalib, gugur syahid dalam perang ini. Nabi sendiri mengalami luka yang cukup serius. Namun berkat kepemimpinan putra Abdullah ini, kaum muslimin kembali berhasil memegang kendali peperangan setelah merapikan barisan. Menyaksikan hal itu, Abu Sufyan memerintahkan kepada pasukan kafir Quresy untuk menghentikan perang dan kembali ke Mekah. Dengan demikian berakhirlah perang Uhud.


SEJARAH RASULULLAH… SAWW (Bagian 5)
PERANG KHANDAQ

Setelah terjadinya perang Uhud yang merupakan pembalasan dendam suku Quresy atas kekalahan telaknya pada perang Badr, kekuatan kaum muslimin di Madinah mulai diperhitungkan. Munculnya kekuatan baru yang membawa simbol keagamaan baru dirasa oleh banyak suku Arab sebagai ancaman yang serius. Untuk itu, ketika Abu Sufyan meminta dukungan dana dan tentara dari suku-suku tersebut untuk memerangi Madinah dan menghancurkan kaum muslimin, segera terkumpul pasukan dan dana yang besar.

Pada tahun kelima hijriyah, sekelompok orang Yahudi datang ke Mekah untuk memprovokasi kaum kafir Quresy agar menyerang kaum muslimin di Madinah. Untuk memperkuat pasukan, Quresy meminta bantuan suku-suku Arab lainnya yang memendam permusuhan dengan Rasulullah SAW. Dalam perang ini, Quresy juga meminta bantuan suku-suku Arab yang memiliki perjanjian militer dengannya. Akhirnya, Abu Sufyan berhasil menghimpun kekuatan sebesar 10 ribu tentara. Jumlah ini dipandang amat besar untuk menyerang sebuah kota yang jumlah penduduknya baik laki-laki, perempuan, anak kecil maupun orang lanjut usia, hanya sekitar 10 ribu orang.

Ketika berita rencana serangan pasukan besar yang dikenal dengan Ahzab ini sampai ke telinga Rasulullah SAW, beliau mengumpulkan para sahabatnya untuk meminta pendapat mereka. Pada saat itu, Salman Al-Farisi, sahabat Nabi yang berasal dari negeri Persia mengatakan, bahwa orang-orang di negerinya biasa menggali parit ketika mengkhawatirkan serangan musuh. Pendapat ini akhirnya disetujui oleh Nabi SAW.

Rasul memerintahkan para sahabatnya untuk menggali parit di sepanjang wilayah utara kota Madinah. Sebab, daerah utaralah satu-satunya pintu yang mudah untuk memasuki kota Madinah, mengingat bukit-bukit bebatuan yang membentengi kawasan timur dan barat kota ini sehingga musuh tidak mungkin menyerang dari sana. Bukit-bukit itu juga relatif menutupi kawasan selatan kota Madinah, meski tetap meninggalkan celah-celah kecil.

Selama enam hari, seluruh kaum muslimin termasuk pemimpin mereka, yaitu Rasulullah SAW bahu membahu menggali parit. Setelah parit siap, pasukan kaum muslimin mengambil posisi pertahanan di dalam kota Madinah. Dan pasukan pemanah juga telah siap di posisi masing-masing.

Di saat seperti itu, Yahudi bani Quraidhah yang tinggal di Madinah merobek isi perjanjian damai dengan Rasulullah. Tidak hanya itu, mereka juga bersiap-siap melakukan pengkhianatan dan membantu pasukan Ahzab untuk menghabisi kaum muslimin. Akibatnya, umat Islam menghadapi musuh yang besar di luar dan musuh di dalam.

Pasukan kafir terperangah ketika menyaksikan bentangan parit yang menghalangi gerak maju mereka. Bangsa Arab saat itu tidak mengenal strategi pertahanan dengan membuat parit. Di luar parit pasukan Ahzab mendirikan kemah. Beberapa kali pasukan berkuda Ahzab berusaha menyeberang parit, namun usaha mereka gagal setelah pasukan muslimin menghalau mereka dengan hujan anak panah.

Suatu ketika, beberapa jawara Ahzab termasuk Amr bin Abdi Wad berhasil menyebrangi parit melalui bagian yang relatif sempit. Di sanalah, Amr dengan congkaknya menantang siapa saja yang berani untuk bertarung dengannya. Hanya Ali bin Abi Thalib yang menjawab tantangan itu, karena Amr bin Abdi Wad dikenal sebagai pahlawan Arab yang keberaniannya paling kesohor. Nabi SAW melilitkan serbannya di kepala Ali dan mendoakannya.

Ali yang mewakili kaum muslimin kini berhadap-hadapan dengan Amr yang mewakili kubu kaum kafir. Debu-debu beterbangan dan serunya pertarungan itu hanya bisa didengar dari dentingan suara pedang. Semua menantikan hasil pertarungan itu dengan hati berdebar-debar. Tak lama kemudian terdengar pekik takbir Ali yang menandakan terbunuhnya Amr di tangan pahlawan muslim ini. Kemenangan Ali atas Amr dipuji oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya. Beliau bersabda, pukulan Ali pada perang parit lebih mulia dari ibadah seluruh manusia dan jin.

Kekalahan Amr telah menebar kekecewaan dan keputus-asaan di hati kaum kafir. Bertiupnya badai yang memporakporandakan perkemahan mereka dan minimnya persediaan rumput untuk binatang ternak dan kuda-kuda mereka telah mengendurkan tekad untuk menyerang kota Madinah. Akhirnya Abu Sufyan yang menjadi komandan pasukan Ahzab memerintahkan untuk berkemas dan kembali ke Mekah.

Kisah perang Ahzab secara cukup detail diceritakan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab. Sebagaimana yang telah disinggung sebelum ini, ada tiga kabilah Yahudi yang tinggal di Madinah dan sekitarnya. Mereka adalah kabilah Bani Qainuqa, bani Nadhir dan Bani Quraidhah. Dengan mereka inilah Nabi SAW mengikat perjanjian untuk tidak saling mengganggu. Perjanjian ini dibuat untuk menciptakan suasana damai di Madinah antar beberapa kelompok untuk bisa hidup berdampingan dengan damai.

Namun ketiga kabilah Yahudi tersebut akhirnya melakukan pengkhianatan dan pelanggaran terhadap kesepakatan. Kabilah Bani Qainuqa dan kabilah bani Nadhir diusir dari Madinah kerena pengkhianatan mereka. Sedangkan bani Quraidhah mendapatkan hukuman yang lebih berat karena pengkhianatan mereka yang amat besar. Seperti yang telah dijelaskan tadi, di saat kaum muslimin Madinah menghadapi ancaman serangan pasukan Ahzab yang berjumlah sepuluh ribu orang, Yahudi bani Quraidhah merobek isi perjanjian damai mereka dengan Rasulullah.

Pengkhianatan yang dilakukan oleh kelompok sedemikian besar sehingga mengancam keamanan seluruh Madinah. Setelah berakhirnya perang Ahzab atau perang Khandaq yang diwarnai dengan kepulangan pasukan kafir ke negeri masing-masing, Allah swt memerintahkan Nabi-Nya untuk mengepung dan menyerang bani Quraidhah. Dengan posisi yang terjepit dan mental yang telah melemah karena kepergian pasukan Ahzab, bani Quraidhah menyerah di tangan Nabi SAW.

Nabi SAW memberikan wewenang kepada Saad bin Mu’adz, pemimpin Aus yang dulu sekutu dekat kelompok ini, untuk memutuskan hukuman apa yang akan dijatuhkan terhadap bani Quraidhah. Saad memutuskan untuk memenggal kepala orang-orang lelaki dari kelompok ini dan menawan anak kecil dan kaum wanitanya. Vonis ini disebut oleh Rasulullah sebagai vonis ilahi.


SEJARAH RASULULLAH SAWW…. (Bagian 6)
PERANG MU’TAH

Setelah tentara muslimin berhasil menundukkan kekuatan kaum Yahudi di Kheibar, dan setelah keamanan dan stabilitas berhasil ditegakkan di Hijaz, maka Rasul Allah saaw berpikir untuk memusatkan dakwahnya kepada penduduk di kawasan-kawasan perbatasan dengan Syam. Untuk itu Rasul Allah saaw mengutus salah seorang sahabat, bernama Harits bin Umair Al-Azdi, dengan membawa sepucuk surat untuk diserahkan kepada pemimpin Ghasasinah, bernama Al-Harits bin Abi Syimr Al-Ghassani. Akan tetapi, setelah menerima dan membaca surat Rasul Allah, pemimpin Ghasasinah ini menangkap dan membunuh utusan Nabi di suatu tempat bernama Mu’tah. Perbuatan membunuh utusan ini dianggap sebagai pelanggaran besar terahdap peraturan yang berlaku saat itu, yang melarang membunuh utusan yang datang dari pihak musuh sekalipun. Hal ini membuat Nabi marah dan beliau memutuskan akan menghukum pembunuh utusan beliau.

Selain itu, sebelumnya pun Rasul Allah saaw telah mengutus 15 orang dari sahabat beliau ke kawasan Syam, untuk mengajak penduduk negeri itu kepada Islam. Akan tetapi penduduk setempat menangkap mereka semua. Kemudian terjadi perlawanan dan pertempuran diantara mereka. Oleh karena kekuatan yang sangat tidak seimbang, maka semua sahabat Nabi tersebut gugur syahid, kecuali satu orang yang terluka dan berhasil kembali kepada Nabi di Madinah dan memberitakan peristiwa tersebut.

Dua peristiwa tersebut telah menciptakan kondisi politik yang panas diantara kedua belah pihak. Kemudian pada bulan Jumadil Awal, Rasul Allah saaw memerintahkan kaum muslimin untuk berjihad, dan beliau mengutus tentara berjumlah 3000 orang. Rasul Allah saaw menunjuk Ja’far bin Abitalib sebagai panglima perang, dengan catatan, jika ia gugur, maka Zaid bin Harits, menggantikannya. Jika Zaid gugur pula, maka Abdyullah bin Rawwahah menggantikannya. Jika Abdullah juga gugur, maka mereka harus mengambil kesepakatan untuk mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai panglima. Rasul Allah saaw pun menyempatkan diri untuk menghantarkan mereka dan mengucapkan selamat jalan kepada tentara muslimin tersebut, seraya mendoakan : Semoga Allah membela kalian, dan mengembalikan kalian dalam keadaan selamat, dan dengan kemenangan.

Di Syam, Al-Harits bin Abi Syimr Al-Ghassani, yang berkuasa di Bashro, telah mempersiapkan pasukan berjumlah 100.000 orang untuk menahan langkah maju tentara muslimin. Sementara itu, Kaisar Syam sendiri juga mempersiapkan 100.000 tentara untuk berjaga-jaga, dan akan turun ke medan pertempuran jika diperlukan.

Sebagaimana diketahui, saat itu Syam dikuasi oleh kekaisaran Romawi, dan ada beberapa penguasa Arab yang dijajah dan menyatakan tunduk kepada kaisar Romawi. Mereka ini adalah negara-negara blok Romawi. Sebagaimana di zaman kita ini kita mengenal ada blok barat dan blok timur, maka saat itu pun ada blok Romawi dan blok Persia. Negeri Syam yang merupakan blok Romawi tentu didukung oleh kekuatan Romawi.

Kekuatan dua pasukan yang akan bertempur ini jelas tidak seimbang. Peperangan pun berlangsung selama beberapa hari. Di pihak muslimin, satu persatu panglima tentaranya gugur. Mulai dari Ja’far, Zaid dan Abdullah bin Rawahah. Kemudian pasukan muslimin sepakat mengangkat Khalid bin Walid sebagai penglima. Khalid pun menyusun taktik perang yang tidak dikenal sebelumnya. Ia membagi tentara muslimin menjadi dua bagian. Bagian pertama tetap berada di garis peperangan, sedangkan bagian kedua diminta untuk memisah dan menempatkan diri di jarak yang cukup jauh. Semua itu dilakukan di malam hari dan dengan kerahasiaan yang ketat. Pasukan yang kedua ini diminta untuk bergabung dengan pasukan pertama yang berada di medan perang, di pagi hari begitu peperangan telah dimulai lagi.

Maka persis sebagaimana yang telah diatur, ketika besok paginya perang berkobar lagi antara pasukan muslimin yang bertahan di medan perang dengan pasukan musuh dari Syam, pasukan muslimin yang tadi malam memisahkan diri di suatu tempat, berdatangan untuk bergabung. Pasukan musuh menyangka bahwa yang datang itu adalah bala bantuan baru dari Madinah, yang menambah jumlah pasukan muslimin. Hal itu menyebabkan pasukan musuh kehilangan nyali, sehingga pasukan muslimin kemudian berhasil mengalahkan mereka dan kembali ke Madinah dengan kemenangan.

Rasul Allah saaw sangat sedih ketika mendengar bahwa Ja’far bin Abi Thalib gugur di medang perang Mu’tah. Dan tiap kali mengingat peristiwa tersebut beliau menangis. Dalam sejarah disebutkan bahwa kedua tangan Ja’far terpotong oleh pedang musuh, sebelum kemudian beliau gugur syahid. Rasul Allah saw mengatakan bahwa Ja’far mendapat hadiah berupa dua sayap yang membuatnya dapat terbang di surga. Untuk itulah kemudian Rasul Allah saaw menjulukinya dengan “Ja’far At-Thayyar” yang artinya kira-kira “Ja’far yang Terbang”.

Selain itu, Rasul Allah saaw, tentu saja atas perintah Allah swt, juga memberikan hadiah sebagai cara untuk mengenang Ja’far At-Thayyar, dengan mensyareatkan suatu amalan sunnah berupa salat, yang dinamai sebagai salat Ja’far At-Thayyar. Salat ini dikenal di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah dengan nama salat Tasbih. Meskipun di kalangan Syiah saja salat ini dikenal dengan nama salat Ja’far, akan tetapi ia dilakukan bukan untuk Ja’far At-Thayyar. Namanya saja salat Ja’far, tetapi fadlilah, keutamaan dan pahalanya yang sangat besar, adalah bagi siapa saja yang melakukannya.


SEJARAH RASULULLAH SAWW… (Bagian 7)
PELANGGARAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH
 OLEH KAUM QUREISY

Sebagaimana Anda ketahui, Rasul Allah saaw pernah menjalin perjanjian damai dengan kaum musyrikin Quraisy yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah. Isi terpenting dari perjanjian tersebut ialah bahwa kedua belah tidak akan saling memerangi baik langsung mapun tidak langsung.

Akan tetapi kaum Quraisy, melanggar perjanjian Hudaibiyah ini ketika mereka memasok kabilah Bani Bakr dengan senjata perang. Kaum Qureisy mendorong Bani Bakr dari suku Kinanah yang bersahabat dengannya ini untuk menyerang Khuza’ah yang bersahabat dengan muslimin. Maka Bani Bakr pun menyerang Bani Khuza’ah pada malam hari. Mereka membunuh sejumlah mereka dan menyandera sejumlah lainnya. Rasul Allah saaw mendengar tentang perbuatan Bani Bakr terhadap Bani Khuza’ah yang mendapat dukungan dari Qureisy. Rasul pun berjanji akan menolong Bani Khuza’ah.

Akan tetapi kaum Qureisy menyesali pelanggaran yang mereka lakukan, yaitu mempersenjatai Bani Bakr dan mendorongnya untuk memerangi Khuza’ah. Mereka pun mengirim salah seorang tokoh mereka yaitu Abu Sufyan ke Madinah untuk menjumpai Nabi saaw dan meminta maaf sekaligus menekankan komitmen mereka terhadap perjanjian damai yang telah mereka buat di Hudaibiyah. Mula-mula Abu Sufyan mendatangi rumah putrinya, Ummu Habibah, salah seorang istri Rasul Allah saaw.

Akan tetapi ia tidak mendapat penghormatan yang semestinya dari putrinya ini, melihat bahwa Abu Sufyan adalah seorang musyrik dan najis. Kemudian Abu Sufyan pergi langsung menemui Nabi saaw, dan berbicara kepada beliau tentang kemungkinan memperbarui pernajian damai. Akan tetapi Rasul Allah saaw tidak memberikan jawaban apa pun kepadanya, yang menunjukkan bahwa beliau tidak menaruh perhatian kepada Abu Sufyan dan misi yang dibawanya.

Abu Sufyan masih belum berputus asa, dan pergi menemui beberapa sahabat Nabi saaw untuk menolongnya menyampaikan misi yang ia bawa kepada Nabi, yaitu membuat perjanjian damai baru. Akan tetapi para sahabat pun tidak memberikan jawaban. Kemudian Abu Sufyan pergi ke rumah Imam Ali dan Sayidah Fatimah as, menyampaikan permohonan agar mereka bersedia membantunya untuk berbicara dengan Rasul Allah saaw. Imam Ali as menjawab, “Demi Allah, Rasul Allah saaw telah mengambil keputusan dimana tak ada satu pun dari kami yang dapat memintanya untuk mengubah keputusan tersebut.”

Abu Sufyan pun menoleh kepada Sayidah Fatimah as, lalu meminta kepada beliau untuk berbicara kepada Nabi saaw dan menyampaikan permohonan maaf dari kaum musyrikin Qureisy. Akan tetapi Sayidah Fatimah pun dengan tegas menolak seraya mengatakan bahwa semua itu terpulang kepada keputusan Rasul Allah saaw sendiri.

Adapun Rasul Allah saaw, telah mengambil ketetapan dan memerintahkan mobilisasi umum dengan tujuan menaklukkan kota Makkah, benteng terkuat diantara benteng-benteng para penyembah berhala, dan menghancurkan pemerintahan kaum Qureisy yang zalim, yang selama ini merupakan kendala terbesar bagi kemajuan dan penyebaran ajaran Islam.

Doa Nabi saaw di hari-hari itu ialah permohonan kepada Allah swt agar membutakan mata orang-orang Qureisy sehingga tidak meliat kedatangan muslimin dan tidak mengetahui tujuan mereka. beliau berdoa demikian :
“Ya Allah cabutlah penglihatan orang-orang Qureisy sehingga mereka tidak akan melihat kedatanganku kecuali dalam keadaan tiba-tiba dan tidak mendengar rencanaku ini kecuali mendadak”

Di bulan Ramadlan tahun kedelapan, berkumpullah umat muslimin dalam jumah yang besar untuk berangkat menuju Makkah. Berbagai kabilah dan suku Arab yang telah menyatakan keislaman mereka juga turut serta. Diantara mereka yang ikut dalam rombongan fathu Makkah ini ialah, kaum Muhajirin 700 orang dengan tiga bendera ditambah 300 ekor kuda. Kaum Anshar 4000 orang dengan banyak bendera ditambah 700 ekor kuda. Kabilah Muzainah 1000 orang dengan dua bendera dan 100 ekor kuda. Kabilah Juhainah 800 orang dengan empat bendera dan 50 ekor kuda. Kabilah Bani Ka’ab 500 orang dengan tiga bendera. Selain mereka ikut pula sejumlah besar orang dari kabilah Ghifar, Asyja’ dan Bani Sulaim. Ibnu Hisyam, salah seorang penulis sejarah terkenal mengatakan bahwa muslimin yang ikut serta dalam Fathu Makkah mencapai 10.000 orang.

Hampir saja berita tentang kedatangan kaum muslimin ke Makkah ini sampai ke telinga orang-orang Makkah. Jibril as datang kepada Nabi saaw memberitakan bahwa ada seorang mata-mata di kalangan muslimin yang mengirim surat kepada kaum Qureisy, melalui seorang perempuan bernama Sarah, seorang penyanyi dan penghibur, yang ingin membocorkan rencana besar Rasul Allah saaw menaklukkan kota Makkah ini. Jibril memberitakan bahwa perempuan bersama suatu rombongan tengah bergerak menuju Makkah.

Mendengar itu Rasul Allah saaw memerintahkan kepada Imam Ali as, Miqdad dan Zubeir, untuk mengejar perempuan tersebut, menahannya dan mengambil surat itu darinya. Mereka bertiga berhasil mengejar rombongan tersebut, lalu menahan perempuan itu dan memintanya untuk menyerahkan suratnya. Akan tetapi perempuan tersebut membantah dan mengatakan bahwa ia tidak membawa surat apa pun.

Tentu saja Imam Ali as sama sekali tidak percaya omongan perempuan ini karena ia yakin seratus persen bahwa Jibril as tidak mungkin berbohong. Untuk itu beliau berkata dengan nada keras dan mengancam perempuan tersebut, jika tidak bersedia menyerahkan surat, terpaksa beliau akan menggeledahnya. Karena merasa takut maka perempuan itu pun menyerah dan mengeluarkan surat rahasia tersebut.


SEJARAH RASULULLAH SAWW… (Bagian 8)
PENAKLUKAN KOTA MEKAH ( Fathu Makkah )

Setelah kaum musyrikin Qureisy melanggar perjanjian damai dengan Rasul Allah saaw, dan setelah utusan mereka yaitu Abu Sufyan, gagal meminta maaf dari Rasul Allah saaw, dan kembali ke Makkah dengan tangan hampa, Rasul Allah saaw menyusun rencana rahasia untuk menaklukkan kota Makkah. Akan tetapi beliau tidak menginginkan adanya pertumpahan darah dalam hal ini. Untuk itulah beliau menyusun strategi dengan sangat rapi, dengan memperhitungkan tujuan beliau itu.

Rasul Allah saaw pun memulai gerakan besarnya ini tanpa seorang pun yang mengetahui dengan pasti tujuan beliau, selain sejumlah kecil orang kepercayaan beliau. Saat itu tanggal 10 Ramadlan. Beliau dan muslimin dalam keadaan berpuasa. Di tengah jalan beliau berbuka dengan meneguk air, dan meminta seluruh anggota pasukan untuk melakukan hal yang sama, dengan tujuan agar mereka memiliki kekuatan dan tidak lemah ketika berhadapan dengan musuh.

Setelah Rasul bergerak dari Madinah menuju Makkah, paman beliau, Abbas bin Abdulmuttalib, juga bergerak dari Makkah menuju Madinah untuk bergabung bersama Rasul Allah saaw. Sebagaimana diketahui, setelah Rasul Allah saaw dan muslimin berhijrah dari Makkah ke Madinah, Abbas bin Abdulmuttalib tetap berada di Makkah, tidak ikut berhijrah ke Madinah. Hal itu adalah atas permintaan Nabi saaw, dengan tujuan agar Abbas memata-matai semua kegiatan kaum musyrikin Quraisy dan menghinformasikannya kepada Rasul Allah saaw di Madinah.

Untuk itulah Abbas paman Rasul ini, menyembunyikan keislamannya dan menjalin hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh Qureisy seperti Abu Sufyan dan lain-lain. Ketika Abbas menyongsong ke datangan Rasul Allah dan muslimin di tengah jalan antara Makkah dan Madinah, Abbas membawa serta Abu Sufyan dan seorang lagi tokoh Qureisy bernama Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah. Dua orang ini adalah yang paling getol memusuhi Rasul Allah saaw dan yang sangat aktif dalam usaha menggagalkan dakwah beliau. Setelah Abbas dan dua orang ini bergabung bersama Rasul Allah saaw, kedua orang tersebut ingin bertemu dengan Nabi, akan tetapi mereka tidak mendapat ijin untuk itu.

Ketika pasukan Islam sudah sampai di pinggiran kota Makkah, Rasul Allah saaw memerintahkan untuk menyalakan api di atas gunung dan bukit-bukit sekitar Makkah dari arah Madinah, dengan tujuan menciptakan rasa takut daripada penduduk Makkah. Beliau juga meminta agar setiap orang dari tentaranya membawa obor di tangan sehingga akan tampak sebuah garis memanjang dari api. Semua itu adalah untuk menunjukkan kepada penduduk Makkah bahwa yang datang kali ini adalah pasukan muslimin dalam jumlah yang besar. Rasul Allah saaw juga mengutus Abbas, paman beliau, untuk memberitakan kepada warga Makkah agar menyerah terhadap pasukan muslimin dan tidak mengadakan perlawanan.

Ringkas cerita, penduduk Makkah benar-benar merasa ketakutan melihat atau mendengar besarnya kekuatan pasukan muslimin, sehingga tak ada lagi semangat perlawanan dari mereka. Inilah memang yang dikehendaki oleh Rasul Allah saaw, yaitu penaklukan kota Makkah tanpa pertumpahan darah. Ketika masih berada di pinggiran Makkah dan sebelum memasuki kota ini, Rasul Allah saaw menerima Abu Sufyan di kemah beliau.

Diantara pembicaraan antara Rasul Allah saaw dan Abu Sufyan ialah bahwa Rasul Allah saaw berkata kepadanya, “Belum tibakah saatnya bagimu untuk meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Abu Sufyan berkata, “Sesungguhnyalah wahai Muhammad, betapa lembutnya hatimu, betapa mulianya dirimu dan betapa besarnya perhatianmu terhadap pertalian keluarga. Demi Allah, aku telah menyangka bahwa jika ada tuhan lain selain-Nya, maka aku tidak akan memerlukannya.” Kemudian Rasul Allah saaw berkata, “Belum tibakah saatnya bagimu untuk meyakini bahwa aku adalah utusan Allah?” Abu Sufyan menjawab, “Demi Allah tentang yang satu ini di hati masih ada ganjalan.”

Mendengar jawaban Abu Sufyan seperti itu, Abbas bin Abdulmuttalib yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut, marah dan membentak Abu Sufyan, “Menyerahlah dan bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, sebelum lehermu dipenggal.” Maka Abu Sufyan pun mengucapkan dua kalimat syahadah tersebut, dan Rasul Allah saaw pun menerima keislamannya yang seperti itu. Akan tetapi Rasul Allah saaw tetap meminta kepada Abbas agar tetap menjaga dan mengawasi Abu Sufyan karena orang ini masih belum bisa dipercaya.

Kemudian atas permintaan Rasul pula, Abbas membawa Abu Sufyan ke suatu tempat agak tinggi, di atas jalan yang akan dilalui oleh rombongan pasukan muslimin, agar menyaksikan kehebatan kekuatan muslimin ketika memasuki kota Makkah. Ketika Abu Sufyan menyaksikan masuk pasukan muslimin rombongan demi rombongan, sementara Abbas memberikan penjelasan kepadanya tentang ciri-ciri dan kehebatan pasukan muslimin, Abu Sufyan berkata, “Benar-benar hebat mereka itu. Demi Allah, kerajaan keponakanmu telah sedemikian besar dan kuat.” Abbas menjawab, ”Celaka kau Hei Abu Sufyan, ini bukan kerajaan, akan tetapi kenabian.”

Demikianlah Rasul Allah saaw dan pasukannya memasuki kota Makkah dengan penuh kewibawaan, tanpa pertumpahan darah, berkat strategi yang beliau rancang dengan sebaik-baiknya. Kemudian Rasul Allah saaw membebaskan Abu Sufyan untuk menemui tokoh-tokoh Makkah dan memastikan lagi kepada mereka untuk menyerah sepenuhnya dan tidak mengadakan perlawanan menghadapi pasukan muslimin. Akan tetapi, meskipun Rasul Allah saaw memerintahkan tentaranya untuk tidak memulai menyerang, kecuali jika diserang, beliau menjatuhkan hukuman mati untuk sepuluh orang dari penduduk Makkah, dan memerintahkan kepada pasukannya agar membunuh mereka, meskipun mereka berlindung di balik kain Ka’bah. Nama-nama sepuluh orang yang dijatuhi hukuman mati oleh Rasul Allah saaw ini ialah:
1-      Ikrimah bin Abi Jahal
2-      2- Hubar bin Aswad
3-      Abdullah bin Abi Sarh
4-      4- Qeis bin Hubabah Al-Kindi
5-      Al-Huwairits bin Nuqainad
6-      6- Shofwan bin Umayyah
7-      Wahsyi bin Harb, pembunuh Sayidina Hamzah
8-      8- Abdullah bin Zab’ari
9-      Harits bin Thalalah
10-   10- Abdullah bin Khathl


SEJARAH RASULULLAH SAWW… (Bagian 9)
ATURAN BARU DI MEKAH

Setelah Rasul Allah saaw memasuki Makkah dan beristirahat, beliau meminta kepada Utsman bin Thalhah untuk memberinya kunci Ka’bah, karena selama ini dia lah pemegang kunci Ka’bah yang dia terima secara turun temurun. Kemudian Nabi membuka pintu Ka’bah dan memasukinya diikuti oleh beberapa sahabat. Kemudian Nabi meminta agar pintu Ka’bah ditutup, dan Khalid bin Walid menjaganya di luar. Pada masa itu dinding Ka’bah di bagian dalam penuh dengan gambar para Nabi, malaikat dan sebagainya. Rasul Allah saaw meminta agar semua itu di bersihkan lalu beliau membasuh dinding Ka’bah bagian dalam dengan air zamzam.

Patung-patung yang berada di dalam Ka’bah pun dihancurkan oleh Rasul Allah saaw. Imam Ali as ikut membantu Rasul Allah saaw dalam menghancurkan patung-patung ini. Ketika Rasul Allah akan menghancurkan patung yang terbesar, beliau perlu pijakan untuk mencapai tempat yang lebih tinggi. Untuk itu beliau meminta Imam Ali agar mengangkat beliau di atas bahu. Ketika Rasul Allah berusaha berdiri di atas bahu Imam Ali as, Imam Ali merasakan beban yang sangat berat dari tubuh Rasul Allah saaw, sehingga beliau tidak mampu berdiri mengangkat tubuh Rasul Allah dengan bahunya. Dalam hal ini Imam Ali sendiri mengatakan bahwa beban risalah yang diemban oleh Rasul Allah membuat tubuh beliau sedemikian berat.

Wal hasil apa pun sebabnya, yang jelas dalam sejarah dikatakan bahwa ketika Imam Ali as tidak mampu mengangkat tubuh Rasul Allah saaw, maka Rasul Allah meminta agar Imam Ali yang naik ke bahu beliau untuk menjatuhkan berhala terbesar sesembahan kaum musyrikin Qureisy itu. Jadilah Imam Ali as naik ke atas bahu Rasul Allah saaw dan menjatuhkan berhala besar yang pecah berkeping ketika menimpa tanah. Kemudian Rasul Allah saaw berdiri di depan pintu Ka’bah dan mengucapkan kata-kata berikut ini :

الحمد للّه الذي صدق وعده ونصر عبده وهزم الاَحزاب وحده
“Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya, dan menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (kuffar musyrikin) sendirian”.

Kemudian beliau memandang kepada orang-orang Makkah yang menyaksikan beliau menghancurkan berhala-berhala itu. Beliau bertanya kepada mereka, “Apa yang akan kalian katakan dan bagaimana menurut kalian?” Mereka menjawab, “Kami mengatakan yang baik dan berpendapat dengan pendapat yang baik pula. Engkau adalah saudara kami yang mulia, dan anak saudara kami yang mulia, dan Engkau telah mencapai kemenangan.” Rasul Allah saaw menimpali ucapan mereka dengan mengatakan, “Sedangkan aku mengatakan kepada kalian sebagaimana yang dikatakan oleh Saudaraku Yusuf,

قالَ لا تَثْريبَ عَلَيْكُمُ اليَومَ يَغْفِرُ اللّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرّاحِمين
“Dia (Yusuf) berkata, “Hari ini tidak ada celaan atas kalian. Mudah-mudhaan Allah mengampuni kalian, dan Dialah yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang”. (Yusuf: 92)

Kemudian Rasul Allah saaw juga mengatakan, “Kalian adalah seburuk-buruk tetangga Nabi. Kalian telah mendustakan, mengusir, dan mengganggu. Tetapi kalian belum puas dengan semua itu, lalu kalian memerangiku pula. Pergilah kalian, dankalian adalah orang-orang yang dimerdekakan.”

Setelah menunaikan salat Dhuhur, Rasul Allah saaw menyerahkan kembali kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah. Hal ini menunjukkan bahwa beliau sangat memegang teguh amanat kepada para pemiliknya. Kemudian Rasul Allah saaw menghapus semua jabatan yang berkaitan dengan Ka’bah yang berlaku di masa jahiliyah, kecuali yang bermanfaat bagi umat manusia, seperti pemegang kunci Ka’bah dan penjaga tirai Ka’bah, juga petugas pembagi air untuk para hujjaj.

Dalam kesempatan pertemuan dengan kaum kerabatnya, termasuk BaniHasyim danBani Abdul Muttalib, Rasul Allah saaw menjelaskan kepada mereka bahwa ikatan kekeluargaan yang ada diantara mereka tidak boleh membuat mereka merasa lebih mulia daripada orang lain, atau menjadikannya sebagai tameng untuk berbuat semena-mena dan melanggar yang berlaku dalam pemerintahan Islam.

Di hadapan kaum kerabatnya ini, Rasul Allah saaw bersabda sebagai berikut, “Wahai Bani Hasyim, Wahai Bani Abdul Muttalib, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, dan aku sangat mengasihi kalian. Akan tetapi janganlah kalian mengatakan “Muhammad dari kami”. Demi Allah, para pencintaku, baik dari kalian atau dari selain kalian, tak lain adalah orang-orang yang bertakwa. Jangan sampai kalian datang kepadaku di hari kiamat dalam keadaan memanggul dunia, sementara orang lain datang memanggul akherat. Ketahuilah bahwa aku tidak dapat berbuat apa dengan apa yang ada antara aku dan kalian, tidak pula antara Allah swt dan kalian. Bagiku amalku dan bagi kalian amal kalian.”

Kemudian, dalam khutbah yangbeliau sampaikan di depan sejumlah besar penduduk Makkah, Rasul Allah saaw mengajak semuanya untuk meninggalkan adat kebiasaan buruk di masa jahiliyah. Diantaranya ialah, watak suka menyombongkan nasab atau garis keturunan, etnis Arab atau kearaban, dendam kesumat dan perang berkepanjangan, dan kebiasaan-kebiasaan buruk lain. Semantara itu beliau menumbuhkan nilai-nilai mulia diantara emreka, seperti persamaan hak dan kedudukan diantara manusia, persaudaraan Islam, kasih sayang terhadap kaum lemah termasuk anak yatim dan kaum perempuan.

Sebelum ini telah disebutkan bahwa Rasul Allah menjatuhkan vonis mati kepada 10 orang penduduk Makkah dan meminta agar mereka dibunuh dimanapun mereka berada, bahkan jika mereka bersembunyi di balik kain Ka’bah. Akan tetapi kira-kira separuh dari sepuluh orang ini pada akhirnya dimaafkan juga oleh Rasul Allah saaw, karena permohonan beberapa sahabat, atau kerabat orang-orang itu, yang sudah masuk Islam sebelumnya.

Selain di dalam Ka’bah, kaum musyrikin Qureisy juga memiliki rumah-rumah ibadah yang penuh dengan berbagai macam berhala di dalamnya. Rasul Allah saaw, juga memerintahkan agar rumah-rumah ibadah tersebut dibersihkan dari patung. Beliau juga memerintahkan kepada penduduk Makah yang memiliki patung agar menghancurkannya.

Demikianlah Rasul Allah saaw setelah menaklukkan Makkah, mengislamkan seluruh penduduknya dan membersihkan kota ini dari semua berhala, beliau pun mengatur dan merapikan pemerintahannya dengan menunjuk orang-orang tertentu untuk menjalankan tugas-tugas sosial, politik, keamanan dan ketatanegaraan.


SEJARAH RASULULLAH SAWW …  (Bagian 10)
PERANG HUNAIN

Dalam penaklukan kota suci Makkah Al-Mukarramah, dimana setelah Nabi dan muslimin menguasai penuh kota tersebut, maka sekitar 15 hari kemudian, beliau menyusun pasukan dalam jumlah 12.000 tentara, dan beliu pimpin sendiri menuju ke kabilah Hawazin dan Tsaqif, yang memberontak kepada beliau. Jumlah pasukan muslimin sedemikian besar karena setelah penduduk Makkah menyatakan menerima Islam, maka bergabunglah kaum pemuda Makkah ke dalam tentara muslimin. Bahkan jumlah besar pasukan ini sempat menimbulkan kebanggaan di kalangan muslimin sehingga mereka sempat melalaikan peran dan pertolongan Allah swt, dan menganggap remeh musuh yang bakal mereka hadapi.
Kondisi mereka seperti inilah yang disinggung di dalam Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 25, sebagai berikut:

لقد نصركم الله في مواطن كثيرة ویوم حنين اذ اعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم من الله شیا وضاقت عليكم الارض بما رحبت ثم وليتم
  مدبرين
Yang artinya, “Allah telah menolong kalian dalam banyak medan pertempuran, dan dalam perang Hunain, ketika kalian merasa bangga dengan jumah kalian yang besar, tetapi hal itu tidak berguna apa pun bagi kalian. Dan bumi pun menjadi sempit bagi kalian, padahal ia luas, kemudian kalian melarikan diri dari medan perang.”

Secara singkat peristiwa perang Hunain itu, sebagaimana disebutkan dalam berbagai kitab sejarah, terjadi dalam dua tahap. Pada tahap pertama, tentara muslimin menghadapi kekalahan karena tipu daya dan taktik perang yang digunakan oleh musuh. Sementara sebagaimana disinggung oleh Ayat tersebut di atas, pasukan muslimin kurang waspada karena mereka merasa bangga dan hanya mengandalkan kekuatan serta jumlah pasukan yang besar.

Pada tahap pertama, pasukan muslimin dari Bani Sulaim di bawah pimpinan Khalid bin Walid, yang pertama kali masuk ke daerah lawan, terjebak dalam serangan mendadak oleh musuh yang bersembunyi di atas bukit yang kemudian melempari pasukan muslimin dengan batu, anak panah dan tombak. Akibat serangan mendadak ini jatuh korban jiwa dan luka dari pasukan muslimin, sehingga mereka berserabutan lalu sebagiannya melarikan diri.

Melihat kekacauan pasukan muslimin tersebut Rasul Allah saaw memerintahkan Abbas bin Abdulmuttalib untuk menyeru mereka agar mereka yang melarikan diri itu kembali kepada beliau. Mendengar teriakan Sayyidina Abbas tersebut, kembali tumbuh semangat di hati mereka, lalu mereka pun kembali ke pada Nabi saaw. Dengan demikian Rasul pun dapat menyusun lagi kekuatan,lalu menyerang posisi musuh. Serangan balasan pasukan muslimin ini berhasil menimpakan korban dan kerugian cukup besar di pihak lawan sehingga memaksa mereka lari meninggalkan posisi mereka. Mereka juga meninggalkan banyak bekal dan peralatan perang, juga wanita dan anak-anak mereka yang tadinya sengaja disertakan bersama mereka untuk membangkitkan semangat tempur.

Diketahui kemudian bahwa meletakkan anak istri di belakang pasukan yang bertempur, merupakan taktik kabilah Hawazin, dan kabilah Arab lain, untuk membangkitkan semangat tempur dan mencegah mereka melarikan diri dari medan perang. Akibatnya, ketika pada akhirnya mereka lari meninggalkan medan perang, maka kaum wanita dan anak-anak ini tertinggal sehingga menjadi tawanan. Pada perang kali ini pun, secara keseluruhan, pasukan muslimin menahan sebanyak enam ribu orang dari pihak musuh, selain rampasan perang lain berupa hewan dan peralatan perang, serta emas perak sebanyak lebih dari 3300 kilogram.

Sedangkan dari pasukan muslimin, delapan orang syahid dan sejumlah lainnya cidera. Setelah kabilah Hawazin mengalami kekalahan, Rasul Allah saaw pun mempersiapkan pasukannya untuk memerangi kabilah Tsaqif, yang bersama-sama kabilah Hawazin memerangi muslimin. Kabilah Tsaqif, setelah mengalami kekalahan, maka kabilah Tsaqif yang membantu Hawazin pun lari menuju ke kampung halaman mereka di Thaif. Mereka bersembunyi di balik benteng-benteng mereka yang terkenal kokoh dengan dinding-dinding yang tinggi. Bersembunyi di balik benteng-bentengnya ini, mereka melempari dengan batu dan memanahi pasukan muslimin, sehingga tidak dapat mendekat ke arah mereka.

Kemudian Salman Al-Farisi, mengusulkan agar membuat “manjaniq”, meriam kuno untuk melemparkan batu berukuran besar ke jarak yang jauh. Disebutkan dalam sejarah bahwa Salman sendirilah, dibantu oleh yang lain, yang membuat manjaniq ini, dan mengajarkan kepada muslimin cara-cara penggunaannya. Akan tetapi hal itu pun tidak mendatangkan banyak kemajuan bagi pasukan muslimin, karena kabilah Tsaqif masih tetap bertahan di dalam benteng dan di balik pintu-pintu gerbang mereka yang masih tetap kokoh.

Pasukan muslimin tetap hanya dapat mengepung tanpa hasil apa pun, dan hal itu berjalan selama berhari-hari. Berbagai taktik telah dilakukan oleh Rasul Allah saaw untuk membuat kabilah Tsaqif menyerah. Diantara taktik beliau itu ialah bahwa beliau mengeluarkan pengumuman, barang siapa yang menyerahkan diri kepada beliau, maka orang itu akan dibebaskan dan tidak akan ditawan. Pernyataan Rasul yang demikian ini berpengaruh pada sebagian pasukan kabilah Tsaqif, yang keluar dari menyerahkan diri kepada Rasul Allah.

Dari mereka yang baru menyerah inilah Rasul Allah saaw mendapat informasi tentang keadaan di dalam benteng. Mereka mengatakan bahwa pihak musuh memiliki bekal yang sangat banyak sehingga akan mampu bertahan meskipun dikepung selama satu tahun. Untuk itulah, dan atas dasar berbagai pertimbangan, Rasul Allah saaw memerintahkan agar pasukannya meninggalkan medan perang.

Beberapa alasan Rasul Allah saaw meninggalkan medan perang tersebut ialah:

1- Tidak ada kemajuan yang diperoleh karena kabilah Tsaqif dan beberapa suku Arab lain yang membantunya, hanya bersembunyi di balik benteng.

2- Pasukan muslimin sudah lelah karena perang sebelumnya menghadapi kabilah Hawazin.

3- Bulan Syawal sudah habis dan masuk bulan DzulQa’dah yang merupakan awal bulan suci (asyhurul hurum) yang dilaranag berperang di dalamnya.

4- Musim haji juga sudah dekat. Dan sejak penaklukan kota Makkah, maka pengelolaan pelaksanaan ibadah haji berada di tangan muslimin.

Akan tetapi Rasul Allah saaw tetap melancarkan dakwah Islam kepada kabilah Tsaqif dan semua suku Arab yang masih belum masuk Islam, sampai akhirnya mereka semua bersedia menerima agama Islam atau menyatakan tunduk kepada pemerintahan Islam.


SEJARAH RASULULLAH SAWW… (Bagian 11)
 NABI SANG PEMAAF


Setelah perang Hunain dan Thaif, yang mendatangkan kemenangan sangat besar bagi muslimin, terutama dari segi peolehan pampasan dan tawanan perang termasuk kaum wanita dan anak-anak, Rasul Allah saaw berserta pasukannya kembali ke Ji’ranah, tempat para tawanan dan pampasan perang Hunain disimpan dan dikumpulkan. Beliau tinggal di Ji’ranah selama 13 hari.

Sebagaimana diketahui, bahwa pada masa kecilnya, Rasul Allah saaw di susui dan hidup selama lima tahun bersama Bani Sa’ad yang merupakan bagian dari kabilah Hawazin. Beliau disusui oleh seorang perempuan Bani Sa’ad bernama Halimah As-Sa’diyyah. Bani Sa’ad ini ikut berperang bersama Kabilah Hawazin melawan pasukan muslimin. Dan banyak dari kaum perempuan dan anak-anak mereka yang ditawanan oleh pasukan muslimin, selain sejumlah harta kekayaan mereka.

Karena para tokoh Bani Sa’ad mengenal kemuliaan akhlak dan kepribadian Nabi saaw, maka mereka yakin bahwa jika mereka meminta kepada Nabi agar membebaskan kaum perempuan dan anak-anak mereka, melihat bahwa sebenarnya telah terjalin persaudaraan diantara mereka, lewat penyusuan tersebut, maka Nabi pasti akan memenuhi permintaan mereka.

Untuk itu Bani Sa’ad mengutus tokoh-tokoh mereka yang telah memeluk agama Islam, untuk menemui Nabi saaw, dan memohon kepada beliau agar membebaskan kaum perempuan dan anak-anak mereka. Rasul Allah saaw pun, dengan kebijaksanaan yang tinggi, pada akhirnya membebaskan mereka semua. Perbuatan Nabi tersebut menanamkan pengaruh posistif yang sangat dalam di hati Bani Sa’ad bahkan seluruh kabilah Hawazin, sehingga lebih banyak lagi diantara mereka yang menyatakan Islam dan iman serta ketaatan kepada Rasul Allah saaw.


PERANG TABUK

Peperangan penting yang terjadi setelah itu ialah perang Tabuk. Tabuk ialah sebuah benteng yang kuat dan tinggi, dibangun di sebuah kawasan perbatasan Syam, atau Suriah sekarang. Pada zaman itu Suriah merupakan tanah jajahan imperium Romawi Timur. Penduduk Syam saat itu beragama Kristen, dan para pejabat pemerintahannya ditunjuk oleh para penguasa Romawi.

Penyebaran agama Islam yang sangat cepat di Tanah Arab dan kemenangan umat muslimin dalam berbagai peperangan, membuat para penguasa Syam takut, sehingga mendorong mereka untuk menyusun strategi. Mereka berpikir bahwa sebelum Islam semakin menyebar dan memperoleh kekuatan, maka mereka harus membasminya terlebih dahulu. Rupanya strategi preemtif yang sekarang ini diterapkan oleh AS, sudah dikenal sejak zaman dulu.

Persiapan pasukan Syam yang didukung oleh pasukan imperium Romawi dan niat mereka untuk melancarkan serangan preemtif terhadap muslimin ini telah didengar oleh Rasul Allah saaw, melalui berita yang dibawa oleh para pedagang Arab yang jalur perdagangan mereka itu adalah Madinah – Syam. Beliaupun merasa harus segera mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar untuk menghadang dan memberi pelajaran kepada pasukan Syam dukungan Romawi itu, selain tentu saja demi menjaga dan mempertahankan pemerintahan Islam yang berhasil beliau tegakkan di jazirah Arab.

Ketika Rasul Allah saaw mengajak umat muslimin Makkah dan Madinah untuk ikut dalam peperangan, sebagian dari mereka menolak dengan memberikan berbagai macam alasan. Hal ini disinggung di dalam Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 49, juga Surat yang sama Ayat 81 dan 82. Pada saat mempersiapkan pasukan untuk menghadapi serangan dari Syam ini, Rasul Allah saaw banyak menghadapi usaha pengkhianatan dari kaum munafikin. Akan tetapi berkat kejelian dan ketegasan beliau, semua usaha tersebut dapat beliau atasi dengan baik.

Perang Tabuk ini termasuk diantara peperangan yang sangat penting, meskipun kemudian peperangan ini tidak terjadi karena pihak musuh merasa takut dan gentar melihat kebesaran dan keberanian pasukan muslimin. Mereka bersembunyi di balik pintu gerbang dan di dalam kota. Oleh karena itu Rasul Allah saaw hanya dapat menemui beberapa kabilah di sekitar Tabuk yang mereka itu beragama Kristen dan takluk di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi. Rasul Allah mengadakan perjanjian damai dan tidak saling menyerang dengan kabilah-kabilah tersebut, sehingga beliau tidak merasa terancam oleh kabilah-kabilah ini. Setelah itu beliau kembali ke Madinah.

Ketika akan berangkat menuju Tabuk Rasul Allah saaw sengaja tidak menyertakan Imam Ali as bersama beliau, akan tetapi meninggalkan beliau di Madinah. Rasul Allah saaw menyadari bahwa beliau akan meninggalkan Madinah dalam waktu yang sangat lama karena Tabuk kawasan yang paling jauh dibanding medang perang lain yang pernah beliau alami. Dan oleh karena menyadari adanya sekelompok munafikin yang menunggu kesempatan ketiadaan Nabi di Madinah dalam waktu yang lama, untuk membuat semacam kudeta, maka Rasul Allah saaw sengaja meninggalkan orang yang paling beliau percayai, yaitu Imam Ali as untuk menjaga Madinah dan seluruh kawasan Islam yang ada saat itu, yaitu Madinah, Makkah dan beberapa kawasan sekitarnya, dari usaha-usaha jahat munafikin.

Melihat Rasul Allah saaw meninggalkan Imam Ali as di Madinah, kaum munafikin merasa kecewa dan yakin bahwa dengan keberadaan Imam Ali di Madinah, tak mungkin mereka dapat melaksanakan rencana jahat mereka. untuk itu mereka menimbulkan isu-isu yang menyudutkan Imam Ali dengan harapan akan mendorong beliau untuk berangkat bersama Rasul Allah saaw, meninggalkan Madinah. Pada intinya isu-isu tersebut mengatakan bahwa Rasul Allah sudah tidak lagi memerlukan Ali dalam peperangannya, atau bahwa Ali-lah yang meminta untuk tinggal bersama kaum perempuan dan anak kecil di Madinah, karena perang kali ini sangat jauh, dilakukan di tengah musim panas, dan menghadapi musuh yang sangat tangguh.

Mendengar kasak-kusuk kaum munafikin tersebut, Imam Ali as berangkat mengejar rombongan Rasul Allah saaw dan berhasil menemui beliau di Juhfah berjarak beberapa kilo meter dari Madinah. Di situlah Imam Ali as menyampaikan kasak-kusuk kaum munafikin tersebut. Dan untuk membantahnya Rasul Allah saaw kembali mengeluarkan pernyataan yang sangat terkenal dan menjadi salah satu bukti kepemimpinan Imam Ali as setelah beliau saaw. Ucapan Nabi ini kemudian dikenal dengan hadits “manzilah”. Beliau berkata kepada Imam Ali:

أما تَرْضى يا عَليّ أنْ تَكُونَ مِنّي بِمنزلةِ هارونَ مِنْ مُوسى إلاّ أنَّه لا نبيَّ بعدي
”Apakah engkau tidak suka wahai Ali, bahwa engkau memiliki kedudukan terhadapku sama seperti kedudukan Harun terhadap Musa? Hanya saja tidak ada Nabi lagi setelahku.”
 

SEJARAH RASULULLAH SAWW… (Bagian 12)
PERANG TABUK (2)

Perang Tabuk juga menyimpan kisah-kisah menarik tentang kemunafikan sejumlah orang yang mengaku sebagai sahabat Nabi, akan tetapi mereka sebenarnya adalah orang-orang munafik. Peristiwa perang ini berlangsung di saat Jazirah Arab sedang dipanggang musim panas yang sangat terik. Hari-hari sangat panjang dan lautan pasir menjadi sangat garang. Kebiasaan orang-orang saat itudi musim panas adalah banyak beritirahat di siang hari.

Rasulullah menyeru kepada semua kabilah bersiap-siap dengan pasukan yang sebesar mungkin. Orang-orang kaya dari kalangan Muslimin juga dimintanya supaya ikut serta dalam menyiapkan pasukan itu dengan harta yang ada pada mereka serta mengerahkan orang supaya sama-sama menggabungkan diri ke dalam pasukan itu. Seruan Rasulullah ini berarti ajakan untuk meninggalkan isteri, anak, dan harta-bendadi panas musim yang begitu dahsyat. Mereka harus mengarungi lautan tandus padang sahara, yang kering, tanpa air, kemudian harus pula menghadapi musuh kuat yang sudah mampu mengalahkan Kerajaan Persia.

Hati sebagian orang kaya itu sangat berat langkah dalam memenuhi panggilan Rasulullah. Mereka mulai mereka itu mencari-cari alasan, sambil berbisik-bisik sesama mereka. Lebih jauh lagi, mereka mulai mencemooh ajakan Rasul yang mulia itu. Mereka akhirnya berdiam diri di rumah-rumah mereka secara sengaja. Ketika sekelompok orang-orang munafik mulai memprovokasi satu sama lain dengan mengatakan “Jangan kalian berangkat perang dalam udara panas seperti ini”. Turunlah firman Allah berikut ini,
Farihal mukhallafuna bi….

“Orang-orang tertinggal di belakang dan tidak ikut berperang itu merasa gembira dengan ketertinggalan mereka di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Merek berkata, “Jangan kalian berangkat perang dalam udara panas begini.’ Katakanlah kepada mereka itu, ‘Api neraka lebih panas lagi, jika saja kalian mengerti. Biarlah nanti mereka tertawa sedikit dan menangis lebih banyak sebagai balasan atas hasil perbuatan mereka.” (Qur’an, surah at taubah ayat 81-82)

Di antara mereka, ada juga yang mencoba menghindari peperangan, namun tidak dengan terang-terangan seperti kaum munafik itu. Mereka itu sebenarnya telah terjebak kepada provokasi orang-orang munafik. Mereka sempat meminta izin kepada Rasulullah agar tidak perlu pergi berperang dengan alasan agar bisa menghindari fitnah. Akan tetapi, sebagaimana yang kemudian disampaikan oleh Rasul, Allah menilai bahwa permintaan izin merteka itu justru salah satu bentuk keterjebakan ke dalam fitnah. Simaklah ayat AL-Quran berikut ini.

Wa minhum man….
“Ada pula di antara mereka yang berkata: ‘Ijinkanlah saya (tidak ikut serta) dan jangan kau jerumuskan saya ke dalam fitnah ini., Ketahuilah, mereka kini sudah terjatuh ke dalam ujian itu, dan bahwa neraka itu adalah tempat bagi orang-orang kafir.” (Qur’an, 9:49)

Tentara Rasulullah akhirnya meneruskan perjalanan ke Tabuk. Sebenarnya berita tentang pasukan ini dan kekuatannya sudah sampai kepada pihak Rumawi. Inilah yang membuat pasukan Rumawi gentar. Oleh karena itu Setelah pihak Muslimin sampai di Tabuk dan Muhammad mengetahui pihak Rumawi menarik diri ke dalam benteng-benteng mereka, Rasul merasa  tempat waktunya untuk tetap mengejar mereka terus sampai ke dalam negeri mereka. Oleh karena itu, ia perinahkan kaum muslimin agar tetap tinggal di perbatasan.

Ketika itulah Yohanna bin Ru’ba – seorang amir (penguasa) Aila yang tinggal di perbatasan oleh Nabi dikirimi surat supaya ia tunduk atau akan diserbu. Yohanna datang sendiri dengan memakai salib dari emas di dadanya. Ia datang dengan membawa hadiah dan menyatakan setia. Ia mengadakan perdamaian dengan Muhammad dan bersedia membayar jizya seperti yang juga dilakukan oleh pihak Jarba’ dan Adhruh dengan membayar jizyah. Permintaan damai ini diterima oleh Rasulullah.

Sebagai tanda persetujuan atas perjanjian ini Muhammad memberikan hadiah kepada Yohanna berupa mantel tenunan Yaman disertai perhatian penuh kepadanya, setelah diperoleh persetujuan bahwa Aila akan membayar jizya sebesar 3000 dinar tiap tahun. Kemudian Rasulullah pun memerintahkan pasukan muslim pulang ke Madinah


SEJARAH RASULULLAH SAWW… (Bagian 14)
PENYUCIAN MEKAH DARI SYIRIK

Setelah perang Tabuk, peristiwa penting berikutnya yang terjadi pada kehidupan Rasulullah adalah perintah untuk membersihkan Masjidil Haram dari adat-adat jahiliyah. Pada tahun kesembilan hijriyah, menjelang datangnya musim haji, Rasulullah SAW mendapat wahyu dari Allah yang berisi pernyataan berlepas tangan dari kaum kafir. Wahyu tersebut adalah sepuluh ayat pertama surah Baraah atau Taubah. Diantara wahyu tersebut adalah pernyataan yang menyebut kaum kafir sebagai orang-orang najis yang tidak diperkenankan memasuki masjidil Haram.

Sebagaimana yang diketahui, meski kota Mekah telah ditaklukkan dan seluruh berhala yang berada di dalam komplek masjidil haram telah dihancurkan, akan tetapi orang-orang kafir masih bebas melakukan tawaf dan umrah di sana dengan tata cara jahiliyah. Turunnya ayat-ayat pertama surah taubah adalah keputusan dari Allah ujntuk membersihkan Mekah dari segala hal yang berbau kemusyrikan.

Setelah ayat tersebut turun, Rasul memerintahkan Abu Bakar untuk membawa ayat itu dan membacakannya kepada semua yang berada di Mekah saat musim haji tiba. Sahabat Nabi itu dengan serta merta bertolak ke Mekah untuk menjalankan perintah tersebut. Akan tetapi tak lama setelah Abu Bakar berangkat, Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengutus Ali ke Mekah menggantikan Abu Bakar. Ali-pun bertolak ke Mekah mengejar Abu Bakar. Kepadanya, Ali menyampaikan pesan Rasul dan mengambil alih amanat ayat itu untuk dibacakan di hadapan semua orang di musim haji.

Abu Bakar kembali ke Madinah dan mendatangi Rasul untuk menanyakan hal ini. Kepadanya Rasul bersabda, Allah telah mengutus Jibril kepadaku dan menyatakan bahwa hanya aku atau orang yang berasal dariku-lah yang berhak membacakan ayat baraah di Mekah. Dan orang itu adalah Ali.

Dengan dibacakannya ayat-ayat suci tersebut di hadapan seluruh jemaah yang hadir pada musim haji saat itu, orang-orang kafir tidak lagi berhak memasuki komplek masjidil haram.


HAJJATUL WADA ATAU HAJU PERPISAHAN

Tahun ke sepuluh hijriyah, Rasulullah SAW bersama sekitar seratus ribu sahabatnya yang berasal dari berbagai penjuru Jazirah Arabia melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini disebut dalam sejarah sebagai hajjatul wada’ atau hari perpisahan. Sebab, sepulangnya dari perjalanan haji, Rasulullah SAW jatuh sakit yang mengakhiri kehidupan beliau yang penuh berkah.

Ibadah haji ini menjadi momen yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Karena, umat menyaksikan tata cara ibadah haji yang diajarkan dalam agama Islam secara langsung dari pembawa risalah kenabian. Umat Islam melihat sendiri bagaimana Nabi bertawaf, sa’i, wukuf di padang Arafat, tinggal di mina, menyembelih korban dan memotong rambutnya.

Pada kesempatan itu, Nabi juga menyampaikan sebuah khotbah bersejarah yang menjelaskan segala permasalahan dalam Islam. Beliau mengingatkan kembali soal tauhid, ibadah, akhlak, sikap saling membantu antar sesama dan banyak hal lainnya.

Setelah selesai melaksanakan ibadah haji, Rasulullah SAW dan para jemaah haji lainnya meninggalkan kota Mekah menuju kampung halaman masing-masing. Di tengah perjalanan, saat tiba di suatu tempat persimpangan, Nabi SAW mendapat wahyu yang berbunyi,

Ya ayyuhar rasul balligh ma unzila ilaika….
Artinya, Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan dari Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau sampaikan, berarti engkau sama saja tidak pernah menyampaikan risalahNya. Allah melindungimu dari umat manusia.

Nabi lantas memerintahkan rombongannya untuk berhenti di suatu tempat bernama Ghadir Khum. Mereka yang sudah lewat diperintahkan untuk kembali dan mereka yang belum sampai ditunggu kedatangannya. Ada satu hal penting yang ingin beliau sampaikan kepada umat. Hari itu adalah tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 hijriyah.

Ketika semua orang telah berkumpul, Nabi SAW berdiri di hadapan para sahabatnya yang menyemut memenuhi padang tandus Ghadir Khum. Beliau ingin menyampaikan sebuah pesan penting dari Tuhan. Setelah mengucapkan puji-pujian syukur kepada Allah swt dan menyampaikan beberapa hal, beliau bersabda, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya pula.”

Sabda Nabi SAW ini didengar langsung oeh sekitar seratus ribu muslimin di Ghadir Khum. Pesan penting ini, memiliki arti bahwa Ali-lah yang akan menggantikan posisi Nabi sebagai pemimpin umat sepeninggal beliau. Karenanya, setelah menyampaikan pesan ini, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk membaiat Ali. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai peristiwa Ghadir Khum.

Pembersihan Jazirah Arabia dari kekuatan Yahudi dan penaklukan kota Mekah serta pembersihan Masjidil Haram dari sisa-sisa adat jahiliyah adalah hasil perjuangan Nabi SAW selama lebih dari 20 tahun menyebarkan agama Islam dan menyampaikan risalah kenabian terakhir ini. Sejak jatuhnya kota Mekah ke tangan umat Islam, kaum muslimin yang dahulu terusir dan terasing berubah menjadi sebuah kekuatan besar yang ditakuti oleh seluruh kabilah Arab. Bahkan Rumawi dan Persia yang merupakan dua kutub kekuatan saat itu sangat memperhitungkan kekuatan umat Islam.

Sepulangnya dari Hajjatul Wada’, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya agar bersiap-siap untuk menyerang pasukan Rumawi di wilayah Syam. Sama seperti perang Tabuk, beliau tidak memperkenankan siapapun juga untuk tidak menyertai pasukan ini kecuali beberapa orang yang beliau tentukan. Panji perang diberikan Rasulullah kepada Usamah bin Zaid yang saat itu masih berusia 17 tahun. Pemilihan Usamah sebagai komandan pasukan ditentang oleh banyak orang yang meragukan kemampuan pemuda ini. Rasulullah yang saat itu sedang sakit keras dengan tegas menyatakan bahwa Usamah layak untuk memimpin pasukan besar kaum muslimin.

Akibat penentangan itu, banyak orang yang terkesan lamban untuk menyertai pasukan besar ini, sampai akhirnya berita memburuknya kondisi kesehatan Nabi SAW sampai ke telinga para sahabatnya. Akhirnya, pada tanggal 28 Shafar tahun 11 hijriyah, Muhammad bin Abdillah, Rasul terakhir dan makhluk Allah yang paling mulia menerima kedatangan malaikat maut. Kepergian penghulu para nabi ini menjadi berita paling mengejutkan dan menyedihkan bagi umat Islam. Rasulullah pergi dari dunia yang fana ini menemui Sang Khalik, setelah menyempurnakan misi risalah kenabian.

Muhammad adalah anak dari Abdullah, bin Abdul Muttalib, bin Hashim …… bin Mudhar … bin Adnan ….. bin Yashjub, bin Nabit, bin Ismail, bin Ibrahim.




CATATAN
KELAHIRAN ISHAQ KETIKA ALLAH MENGGANTIKAN SEEKOR KAMBING BUAT QURBAN

[111] Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
[112] Dan Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan kelahiran Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.

Dalam ayat 102, tidak disebutkan nama anak yang akan disembelih itu, tetapi identifikasi Ismail dalam ayat tersebut sangat jelas, oleh karena dalam ayat 112, Ishak, adik Ismail, baru dilahirkan setelah peristiwa penyembelihan tersebut.

Jadi, "sebahagian keturunan Ibrahim" sebagaimana dimaksud "Langkah Kedua" di atas adalah "Ismail dan anak-cucunya".

4. Langkah Keempat: Muhammad Keturunan Ismail bin Ibrahim?

Allah berfirman (artinya):

[QS. 2:127-130. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah (Ka'bah) bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.]

Allah menjawab permohonan Ibrahim di atas dengan berfirman (artinya):

[QS. 2:124] Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim".

Frasa kunci untuk ayat2 di atas adalah "diantara anak-cucu kami" dan "utuslah untuk mereka seorang Rasul".

Pertanyaannya adalah: Siapakah Rasul yang dimaksud itu?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, Allah dengan tegas berfirman (artinya):

[QS. 3:67-68. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.]

Dikatakan dalam ayat2 di atas, bahwa orang2 yang paling dekat dengan Ibrahim adalah orang2 yang mengikutinya pada waktu itu dan Nabi Muhammad.

Lebih jauh, Ibrahim berkata sebagaimana Firman Allah berikut ini (artinya):

[QS. 2:132] Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam" .

Perhatikan kata "agama Islam" dalam ayat di atas yang berhubungan erat dengan Nabi Muhammad.

Kesimpulan:

[B]Hadits riwayat Turmudzi di atas, selain isnad-nya terkenal, juga matan-nya tidak bertentangan dengan nash Al-Qur'an. Sehingga dengan demikian, maka Hadits tersebut adalah "shahih", yang sekaligus membenarkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah keturunan Nabi Ibrahim dari anak sulungnya, Nabi Ismail.


JAWAB :

Muslim mengklaim bahwa nabi SAW adalah keturunan dari Ismail.


…... Dengan cara yang sama Muhammad berasal dari saudara bangsa Israel, karena dia adalah keturunan anak Ismail putra Ibrahim. …….

Secara lebih spesifik Ahmed Deedat merujuk kepada KEDAR, anak Ismail.
Dikutip dari :
The Choice – Combat Kit :

(B) ". . desa-desa yang didiami Kedar" (Injil-Yesaya 42: 11).
"Arab dan semua pemuka Kedar.... " (Injil - Yehezkiel 27: 21)
Ensiklopedi Injil standar Internasional mengutip yang berikut ini dari A. S. Fulton:
" ... Dari rumpun Ismail, Kedar adalah yang paling penting, dan oleh karena itu pada masa berikutnya nama tersebut diaplikasikan untuk semua suku-suku liar padang pasir Melalui Kedar (Arab Keidar) geneolog Muslim menelusuri nenek moyang Muhammad dari Ismail."



Apakah nabi Muhammad SAW adalah keturunan Kedar – keturunan Ismail?

Kita lihat dulu silsilah nabi SAW yang diambil dari :
http://media.isnet.org/islam/Silsilah/Muhammad02.html (sebelah kiri)
http://www.ahle-sunnat.org.uk/PLINAGE3.html (sebelah kanan)



Kedua sumber sama untuk nama di bawah Adnan, namun berbeda untuk nama diatas Adnan, berikut Nabit dan Kedar.

00 IBRAHIM ...vs 00 Prophet Ibrahim (Alaihi Salaam)
01 Isma'eel …..vs 01 Prophet Ismail (Alaihi Salaam
02 NABIT ….....vs 02. QAIDAR (KEDAR)
03 Yashjub …...vs 03. Nabt
04 Tayrah …....vs 04. Al YAsa
05 Nahur ……...vs ??????
06 Muqawwam vs 05. Al Muqawwam
?????????.........vs 06 Yaqdud
?????????.........vs 07 Zayd
07 Udad …….....vs 08. Adad
08 'ADNAN ......vs 09 Adnan
09 Mu'ad
10 Nizar
11 MUDAR
12 Ilyas
13 Mudrika
14 Khuzayma
15 Kinana
16 AL NADR (AL QURAYSH)
17 Malik
18 Fihr
19 Ghalib
20 Lu'ayy
21 Ka'ab
22 Murra
23 Kilab
24 Qussayy (Real name: Zayd)
25 'Abdu Manaf (Real name: Al Mughira)
26 Hashim (Real name: 'Amr) as Banu Hashim
27 'Abdu Al Mutallib (Real name: Shaiba)
28 'Abdullah
29 MUHAMMAD saw

Nama yang perlu mendapat perhatian adalah Nabit, Kedar. Adnan, Mudhar dan Quraish.

Beberapa poin penting sehubungan dengan silsilah nabi SAW adalah :


PERTAMA :


Setidaknya ada 2 pendapat tentang asal usul nabi Muhammad SAW, yaitu melalui Nabit dan melalui Kedar.
Nabit adalah anak pertama Ismail, sedang Kedar adalah anak ke 2 Ismail
Kej 25 : 13 : ….. Nebayot anak sulung Ismail, selanjutnya Kedar ………

1. Dikutip dari Sirat Ibnu Ishaq
(Kitab Sejarah Nabi Tertua), buku 1,
Muhammadiyah University Press, 2002, halaman 4 :
Muhammad adalah anak dari Abdullah, bin Abdul Muttalib, bin Hashim …… bin Mudhar … bin Adnan ….. bin Yashjub, bin Nabit, bin Ismail, bin Ibrahim.

Nabi Muhammad SAW adalah keturunan Nabit anak pertama Ismail


Ibn Ishaq
Nama lengkapnya adalah Muhammad Ibn Ishaq Ibn Yasar. Lahir di Medinah 704 M, meninggal di Baghdad 767 M. Mengunpulkan kisah-kisah tentang kehidupan nabi SAW dengan sumber berasal dari ayah dan ke 2 pamannya. Buku biografi tentang nabi SAW yang direview kembali oleh Ibn Hisham adalah sumber tertua tentang sejarah hidup nabi SAW.


2. Dikutip dari Sejarah Hidup Muhammad,

Syaikh Shafiyyur Rahman al Mubarakfury
Robbani Press, 2002, halaman 46 – 47 :
Kedua, bagian yang mereka perselisihkan, antara setuju dan tidak, yaitu diatas Adnan sampai Ibrahim. ………..
Bagian kedua, yaitu diatas Adnan. Adnan adalah bin Ad bin Humaisi ….. bin Iram bin Qidar bin Ismail bin Ibrahim.


Nabi Muhammad SAW adalah keturunan Kedar anak kedua Ismail.

Jadi sejarah tertua mengkaitkan nabi Muhammad SAW dengan Nabit (anak pertama), sementara tulisan yang belakangan mengkaitkan nabi Muhammad SAW dengan Qidar (Kedar – anak kedua Ismail).

Kenapa terjadi perubahan?
Kemungkinannya karena pakar-pakar Islam awal cenderung mengkaitkan dengan anak sulung yaitu Nabit yang secara tradisi umumnya menjadi anak yang mendapat hak kesulungan.


Sementara pakar Islam modern setelah lebih mengetahui Alkitab ternyata mendapati :

• Nabit sama sekali tidak memegang peranan dan hampir tidak disebutkan namanya. Bahkan malah dihubungkan dengan domba-domba yang akan akan dikurbankan orang Israel. 





* Yesaya 60 : 7
Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.


Tentu saja ayat ini tidak mengenakkan bagi pakar-pakar muslim sehingga pandangan bahwa nabi SAW keturunan Nabit tidak lagi perlu dipertahankan.

• nama Kedar disebutkan dalam konotasi “kegembiraan” :
Yesaya 42 : 11 : "..demikian pun segala dusun yang diduduki ORANG KEDAR, baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu ……".

Kalimat dalam Yes 42 kemudian dipergunakan untuk menjustifikasi bahwa nabi Muhammad SAW telah diramalkan dalam Alkitab melalui Kedar, sementara bukit batu berarti wilayah Mekah yang berbukit-bukit.


Itu sebabnya silsilah harus diganti dari Nabit menjadi Kedar.

Ironisnya, Kedar justru dikonotasikan sebagai musuh Israel.


* Mazmur 120 : 5 – 7 :
Ayat 5 : CELAKALAH aku karena harus tinggal sebagai orang asing di Mesekh, karena harus diam diantara kemah-kemah KEDAR.
Ayat 6 : Cukup lama aku tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang MEMBENCI PERDAMAIAN.
Ayat 7 : Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara, maka MEREKA MENGHENDAKI PERANG


Jadi Kedar muncul dalam konteks CELAKA, PEPERANGAN dan KETIDAKDAMAIAN.

Jika muslim berkeras bahwa Kedar menubuatkan nabi SAW (bangsa Arab), maka NUBUAT ALKITAB INI TERPENUHI dengan PEPERANGAN-PEPERANGAN yang dilancarkan oleh nabi SAW dan muslim selanjutnya

Jika ayat ini menjadi tidak mengenakkan muslim, MUNGKIN di kemudian hari akan ada perubahan lagi bahwa nabi SAW keturunan dari Tema, anak ke 9 Ismail.
Kej 25 : 13 : …… Hadad, TEMA, Yetur, ………

Perubahan dimungkinkan karena adanya sebuah oase di digurun Nefud di Arab Tengah yang bernama TEIMA. Jadi nabi SAW bisa dikaitkan dengan TEMA – dengan Ismail.


KEDUA :


Sebetulnya garis keturunan nabi Muhammad diatas Adnan tidak dapat ditentukan lagi.


Imam Ibn Kathir
Namanya Abul Fida Ismail ibn Abi Hafs Shihabuddin Omar ibn Kathir ibn Daw ibn Kathir. Lahir di Busra (Syria) tahun 1302 M, meninggal 1373 M. Mengarang kitab tafsir yang diakui oleh muslim sebagai satu yang terbaik.


Berikut kutipannya :

1. Dilaporkan bahwa ibn Abbas berkata, “Antara Adnan dan Ismail ada 30 generasi yang TIDAK DIKETAHUI”
2. Umar ibn Khatab menyatakan, “Kami mengetahui daftar nenek moyang hanya SAMPAI KEPADA ADNAN”
3. Abu al-Aswad menyatakan bahwa dia mendengar Abu Bakar Sulayman ibn Abu Khaytam, salah satu orang yang paling terkemuka dalam sejarah suku Quraysh berkata, “Kami tidak pernah mengatahui ada orang yang mengetahui garis keturunan SEBELUM ADNAN, DALAM BENTUK APAPUN.”
4. Sementara menurut Malik - Allah mengasihinya - Malik menunjukkan ketidaksetujuannya ketika seseorang menyatakan silsilah nenek moyangnya hingga ke Adam dan berkata, “Kapan informasi itu sampai kepadanya?” Ketika Malik ditanya silsilah hingga Ismail, dia menunjukkan ketidaksetujuannya, dan bertanya, “SIAPA YANG DAPAT MEMBERIKAN INFORMASI SILSILAH ITU?”
5. Ibn abbas dilaporkan ketika mengecek silsilah nenek moyang hingga Adnan, berkata, “Ahli silsilah telah BERBOHONG”


Jadi ada kebohongan untuk mengkaitkan nabi Muhammad SAW dengan Ismail dan Abraham dalam khasanah sejarah Islam.

Pada akhirnya Ibn Kathir hanya dapat meyakini nabi Muhammad SAW keturunan Kedar – Ismail hanya atas dasar IMAN.


2. Ibn Sa'ad's Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir Volume I

Terjemahan oleh S. Moinul Haq, M.A., PH.D dibantu oleh H.K. Ghazanfar M.A.
Halaman 50 – 53 :


Muhammad Ibn Sa’d
Lahir di Basrah 783 M dan meninggal tahun 845 M. Belajar agama dari Muhammad ibn Umar al-Waqidi. Dalam pencariannya terhadap ilmu, Ibn Sa’d belajar hingga ke Kufa dan Madina. Otoritasnya diakui oleh ulama belakangan yaitu : Ibn Hajar, adh-Dhahabi, al-Khatib al-Baghdadi dan Ibn Khallikan.


Berikut kutipannya :

1. ….. menurut Urwah : Kami tidak menemukan seorangpun yang dapat mengetahui silsilah DIATAS MA‘ADD IBN ‘ADNAN.
2. …. Aku mendengar Abu Bakar Ibn Sulayman Ibn Abu Hathamah berkata …… Kami tidak menemukan dengan pasti pengetahuan dari ilmuwan ataupun dari sajak-sajak kuno tentang silsilah DIATAS MA‘ADD IBN ‘ADNAN…


Jelas bahwa silsilah nabi SAW hanya diketahui sampai Adnan saja.
Jadi sebetulnya TIDAK ADA YANG TAHU garis keturunan sebelum Adnan.

Kalau memang tidak ada yang tahu bagaimana bisa mengkaitkan nabi SAW dengan Adnan dan dengan Ismail??


KETIGA :


Bahkan silsilah nabi SAW dari MUDHAR juga baru muncul BELAKANGAN. Dan lagi-lagi muncullah Jibril yang menyelamatkan (mirip saat ingin menikahi Zainab) dengan memberitahu garis keturunan nabi Muhammad melalui Mudhar.

Ibn Sa'd, Kitab al-Tabaqat al-Kabir, Volume I,
Terjemahan oleh S. Moinul Haq, M.A., PH.D dibantu oleh H.K. Ghazanfar M.A.
halaman 4
Ma'n Ibn 'Isa al-Ashja'i al-Qazzaz (pedagang sutera) menginformasikan : dia berkata : Muawiyah Ibn Salih menginfrmasikan menurut Yahya Ibn Jabir yang telah melihat beberapa sahabat Rasulullah SAW dan berkata : Bani Fuhayrah mendatangi Rasulullah SAW dan berkata kepadanya : “Rasulullah SAW adalah dari golongan kami”. Rasulullah SAW menjawab : “Sunguh, JIBRIL TELAH MEMBERITAHUKAN KEPADAKU BAHWA AKU TERMASUK KETURUNAN MUDHAR.”


Ini mengindikasikan bahwa :

1 Bani Fuhayrah tidak mengetahui bahwa nabi Muhammad SAW adalah dari keturunan Mudhar
2 garis keturunan nabi Muhammad hanya diketahui setelah menerima wahyu dari Jibril.

Konsekuensi lebih lanjut adalah garis keturunan bani Quraish dari Mudhar, dari Adnan dan dari Ismail tidak diketahui sebelum munculnya nabi Muhammad SAW karena kalau pengetahuan ini sudah ada kan tidak perlu Jibril mewahyukan sesuatu yang sudah diketahui ramai orang.

Atau dengan kata lain garis keturunan itu DIKARANG kemudian.


KEEMPAT :


Pandangan bahwa Ismael adalah bapa bangsa Arab sebenarnya baru muncul pada awal berkembangnya Islam. Pada jaman pra Islam, tidak ada yang berpendapat bahwa Ismail adalah bapa bangsa Arab.


Beberapa pakar Islam mengakui hal tersebut :

1) Dr. Taha Hussein, seorang profesor dari Mesir, pendapatnya dikutip dalam buku Mizan al Islam karya Anwar Jundi, halaman 170 :
“Dalam kasus cerita Abraham dan Ismail membangun Kabah cukup jelas, cerita ini MUNCUL BELAKANGAN disaat Islam mulai berkembang. Islam mengeploitasi kisah ini untuk kepentingan agama”


Jadi jelas bahwa :
TIDAK ADA BUKTI BAHWA NABI MUHAMMAD ADALAH KETURUNAN KEDAR/NABIT – ISMAIL - IBRAHIM.

Sumber : VIVALDI

Artikel terkait,
Menjawab salah paham : INJIL DIGUGAT KARENA TIDAK ADANYA NUBUAT BAGI "RASUL YANG AKAN DATANG", di injil-digugat-krn-tdk-ada-nubuat-bagi-rasul-yang-akan-vt590.html








Tidak ada komentar: