Rahasia Ramalan Bangsa Hopi
In Ramalan on September 20, 2008 at 5:04 pm
Suku Hopi bangsa Indian pernah meninggalkan konsep tentang asal-usul manusia, siklus kehidupan dan kehancuran peradabannya. Dalam batu nujum, mereka juga meramalkan beberapa peristiwa besar. |
Suku Indian di daratan besar Amerika Utara bukanlah sebuah suku tunggal, tapi merupakan gabungan beberapa suku yang berbeda, bahasa dan sejarah kultur mempunyai kemiripan satu sama lainnya. Banyak yang berpendapat nenek moyang suku Indian dan orang kulit kuning di Asia sangat erat kaitannya.
Banyak ramalan dan legenda beredar di kalangan rakyatnya, terutama suku Hopi, diibaratkan sebagai pencatat sejarah. Lewat cerita lisan yang turun-temurun dan cara lainnya seolah mereka buat notulensi tentang legenda-legenda kuno, salah satu adalah ramalan Hopi yang terkenal itu.
Suku Hopi adalah salah satu bangsa Indian kuno. Nenek moyang mereka berimigrasi dari Meksiko ke negara-bagian Arizona kira-kira lima hingga sepuluh ribu tahun lalu. Kini mereka hidup di negara bagian Arizona Utara di atas tanah lindung (Hopi Reservation). Arti sebenarnya dari Hopi adalah rakyat yang damai [people of peace]. Terdapat dua belas desa di daerah reservasi Hopi, sepuluh di antaranya berbaur dengan masyarakat umum.
Suku Hopi mempunyai tradisi dan kepercayaan lama, dalam setahun mereka mengadakan upacara keagamaan yang berbeda. Ramalan tentang asal-usul manusia, sejarah dan masa depan, mereka dapatkan dari nenek moyangnya secara turun-temurun. Di era tahun 1950-an ada yang menyebarluaskannya dalam bahasa Inggris, ramalannya tentang sejarah perang dunia I dan II sangat akurat.
Menurut suku Hopi, umat manusia telah berganti kebudayaan (peradaban) sebanyak 4 kali, dongengnya tentang asal-usul manusia mempunyai kemiripan dengan firman dalam Al-kitab. Garis besarnya begini: Dunia ini sebenarnya hanyalah sebuah ruang tak terbatas, tak mempunyai ujung dan pangkal, waktu juga suatu kehidupan.
Mulanya Taiowo the Creator (Sang Mahapencipta) menciptakan Sotuknang (dewa yang juga kemenakan Taiowo), atas bimbingan Sang Mahapencipta ia menciptakan zat padat, tujuh alam semesta, air dan udara. Setelah itu diciptakan pula spider woman, dan empat rumpun bangsa berbeda warna kulitnya (kuning, merah, putih, hitam) dari tanah liat. Dianugerahinya akal budi, kemampuan beregenerasi (beranak-pinak) serta berbahasa yang berbeda-beda, membiarkan mereka hijrah ke arah yang berbeda-beda untuk hidup.
Kata Sotuknang pada mereka: “Semua saya berikan agar kalian hidup bahagia, tetapi ada satu permintaanku adalah: Sampai kapan pun kalian harus menghormati Sang Mahapencipta, menghormati belas kasih Sang Mahapencipta, selama hayat masih dikandung badan, kalian jangan lupakan titahku ini.” Mereka ini disebut “manusia pertama” (The First People), dunia tempat mereka tinggal disebut Dunia Pertama (The First World).
Belakangan, banyak orang dari manusia pertama itu melupakan titah dari Sotuknang dan tidak lagi menghormati Sang Mahapencipta. Dengan demikian, Dunia Pertama akhirnya musnah dilalap api besar. Sebagian orang yang bermoral tinggi masuk dalam Dunia Kedua (The Second World). Sekalipun Dunia Kedua tak sebagus yang pertama, namun Dunia Kedua tetap indah. Di masa ini umat manusia berkembang dengan pesat dan berpencar ke empat penjuru, orang-orang sering memuja dan menyanjung Sang Pencipta.
Perlahan-lahan, rasa egoisme manusia semakin besar, mereka lupa memuja Sang Mahapencipta. Tak lama kemudian, Dunia Kedua telah dihancurleburkan oleh Sang Mahapencipta dengan cara membeku. Maka diciptakanlah Dunia Ketiga oleh-Nya. Sisa dari manusia Dunia Kedua masuk ke Dunia Ketiga dan berkembang biak.
Akhirnya akhlak manusia itu merosot lagi. Mereka manfaatkan kreativitasnya untuk melakukan hal-hal yang jahat. Sehingga menyebabkan Dunia Ketiga dihancurleburkan oleh air bah. Maka orang bernasib baik pun masuk ke Dunia Keempat (The Fourth World). Orang-orang yang bernasib baik inilah yang disebut peradaban manusia sekarang ini.
Penyebab utama tersisihnya peradaban manusia di masa lalu karena kebejatan umat manusia, bertambah egoistis serta tidak percaya petuah dari Mahadewa.
Suku Hopi beranggapan bahwa air bah waktu itu hampir menghanyutkan seluruh umat manusia yang ada. Hanya beberapa minoritas yang percaya akan keberadaan-Nya itu bisa hidup selamat. Mahadewa menasihati mereka supaya berkeyakinan teguh terhadap petuah-Nya itu.
Suku Hopi pernah membuat sebuah ikrar suci dengan Mahadewa mereka: “Kami bertindak sesuai dengan bimbingan-Mu untuk selama-lamanya. Khusus bagi suku Hopi, ajaran Tuhan itu adalah kekal abadi.”Berasal dari Sumber yang Sama
Kebudayaan Hopi dengan sumber sejarahnya mempunyai keterkaitan yang dalam. Bahkan pandangan yang berkaitan dengan tanah, air, api dan angin di masa itu dengan kurun waktu yang disampaikan penganut buddhisme tentang adanya empat unsur (tanah, air, angin dan api) itu jauh lebih awal dan dini, namun versi tentang manusia yang berasal dari warna kulit yang sama lebih-lebih melampaui pemahaman sejarah di zaman sekarang ini dan dengan persepsi yang ada pada agama umumnya.
Paragraf di bawah ini berasal dari: Talk Given by Lee Brown in 1986 Continental Indigenous Council. Walau tercampur pengetahuan individu di dalamnya, tapi tetap dapat terbaca secara samar-samar maksud sebenarnya dari pandangan Hopi yang misterius itu.
Sudah berapa lama sejarah bangsa Hopi di daratan Amerika Utara itu masih belum ada yang mengetahuinya, berdasarkan ramalan yang berasal dari ukiran batu itu dipastikan sejarahnya sudah ada 50.000 tahun lamanya, tentu saja cara pemastian dari karbon 14 itu tidak dapat diandalkan sepenuhnya. Silakan lihat terjemahan di bawah ini:
“Zat mineral, batu karang itu ada satu sirkulasi periodik, demikian pun flora. Namun sekarang ini kita sedang berada pada akhir daripada siklus sirkulasi hewan dan sebuah permulaan dari siklus sirkulasi babak baru umat manusia”.
“Ketika kita memasuki ke babak samsara pada umat manusia, untuk itu potensi lahiriah besar yang dimilikinya sejak lahir, akan lepas dan keluar bersama roh dan cahaya manusia itu sendiri. Akan tetapi kita sekarang ini sedang mendekati akhir dari samsara sirkulasi periodik hewan, seperti kita ketahui bahwa apa yang terjadi pada hewan di bumi ini”.
“Pada waktu yang lama, di awal dari periodik sirkulasi ini, Mahadewa turun ke bumi dan mengumpulkan manusia untuk ke sebuah pulau yang telah tenggelam ke dasar laut, lalu bersabda pada manusia bahwa:
"Saya akan kurung kalian ke empat penjuru, serta menjadikan kulit mereka berubah menjadi empat warna secara berangsur serta akan diberikan beberapa bimbingan, maka kalian sebut sebagai amanah dan petunjuk Tuhan, dan ketika kalian bertemu lagi, maka harus dinikmati secara bersama-sama, sehingga dapat hidup harmonis di bumi ini, dan inilah awal dari peradaban umat manusia.”
Selanjutnya Ia berkata, “Sirkulasi Anda semua kali ini akan diberikan dua batu prasasti di setiap rumpun bangsa di semua penjuru, dan jangan dicampakkannya, kalau tidak, umat manusia tidak saja akan mengalami kesulitan dan siksaan, tapi bola bumi ini akan binasa”.
“Dia memberikan sebuah tugas kepada manusia yang ada di semua penjuru, dan disebut sebagai ‘Sang Penjaga’.”
“Terhadap orang Indian yang disebut juga ras berkulit merah itu diizinkan menjadi penjaga tanah, karena mereka harus meresapi pengetahuan di alam semesta ini. Flora berbuah dan tumbuh dari dalam tanah untuk memasok menjadi makanan manusia dan jamu yang berasal dari rumput itu digunakan untuk mengobati penyakit. Pengetahuan-pengetahuan ini dibagiratakan dengan saudara-saudara lainnya.”
“Bagi orang kulit kuning yang di selatan itu, akan dijadikan penjaga angin, maka mereka akan pergi untuk memahami angkasa dan napasnya, serta dimanfaatkan untuk membantu majunya kultivasi dari Qigong itu sendiri, jadi pada saat itu mereka akan ikut menikmati semuanya ini.”
“Bagi orang kulit hitam yang ada di Barat itu akan menjadi penjaga air, dan akan pergi belajar menjadi kepala maujudat dan inspirasi yang berasal dari air, mereka adalah yang paling hina sekaligus terkuat.”
“Bagi orang kulit putih yang ada di utara, akan menjadi penjaga api. Kalau Anda ikut pergi melihat ke sana, maka akan ketemu api dari perbuatan-perbuatan penting mereka. Anda boleh mengatakan bahwa bola lampu itu ialah apinya orang kulit putih. Dalam mobil ada busi, demikian juga Anda dapat temukan api di dalam kereta api serta pesawat terbang. Api bisa terbakar dan berpindah-pindah, itulah sebabnya bangsa kulit putihlah yang pertama-tama hijrah di bumi ini, sehingga kita bergabung menjadi sebuah keluarga besar.”
“Waktu yang amat panjang sudah berlalu, Yang Mahaesa membagikan dua keping batu prasasti kepada setiap orang, maka sebagai orang Indian kita menyimpannya di atas sebuah podium menjulang tinggi pada tanah reservasi suku bangsa Hopi di negara bagian Arizona.”
Di sekitar Oraibi negara bagian Arizona, Amerika, ada sebongkah batu prasasti yang disebut dengan “Batu Nujum”, isi yang terukir di atasnya berdasarkan perlambangan simbol yang dikuasainya dalam menyampaikan ramalan-ramalan kuno bangsa Hopi itu sendiri, konon riwayat sejarahnya sudah ada sepuluh ribu tahun lamanya. Mereka tidak menggunakan huruf atau tulisan, tapi dengan bahasa lisan secara turun-temurun.
Oleh karena kurun waktunya yang sudah terlampau lama jadi tidak ada seorang pun yang sanggup menjelaskan secara autentik lingkaran yang pemancar cahaya digambar sebelah kiri serta simbol yang ada di tengahnya itu (mirip simbol Buddha Swastika). Malahan sementara presentasi yang berhubungan dengannya dibuang, hanya menjelaskan bagian tengahnya saja.
Menurut temanku yang pernah kuliah di Washington University, jurusan psikologi, Sieto yang pernah belajar diagram semacam ini, dalam sekali pandang saja telah menunjuk orang dewasa yang terdapat di gambar sebelah kiri ini adalah Great-Sprite, jelas dampaknya itu.
Mungkin dalam proses terjemahannya dari bahasa Indian ke Inggris itulah salah satu sebab tidak klopnya antara buku ramalan Hopi dengan data-data tertentu yang terdapat di internet dewasa ini, disamping kurun waktunya yang sudah lama sekali secara turun-temurun, sehingga termasuk orang Indian sendiri di zaman sekarang pun susah memahaminya, malah tidak percaya akan ramalan-ramalan ini.
Mungkin dalam proses terjemahannya dari bahasa Indian ke Inggris itulah salah satu sebab tidak klopnya antara buku ramalan Hopi dengan data-data tertentu yang terdapat di internet dewasa ini, disamping kurun waktunya yang sudah lama sekali secara turun-temurun, sehingga termasuk orang Indian sendiri di zaman sekarang pun susah memahaminya, malah tidak percaya akan ramalan-ramalan ini.
Dalam ramalan ini terdapat dua garis horizontal, menunjukkan dua jalan perkembangan yang berbeda: Garis atas adalah simbol dari jalan ilmu pengetahuan dan teknologi yang seimbang dari jiwa tak terkekang.
Ada tiga garis vertikal. Garis pertama ialah ramalan ini berawal. Sedangkan garis kedua menyatakan dalam waktu tertentu manusia akan memutuskan jalan pilihannya dan memilih jalan menuju spiritual atau ilmu pengetahuan. Di garis di bawahnya terdapat dua lingkaran dan menyimbolkan dua kali perang dunia. Sedangkan garis vertikal tebal ketiga sekaligus merupakan garis terakhir untuk menjatuhkan tempo waktu daripada pilihannya itu, yaitu hari ini. Jika alternatifnya pada jalan materi (ilmu pengetahuan), konsekuensinya akan menekuk sehingga binasa. Tapi sebaliknya jika pilihannya jatuh pada jiwa (spiritual), maka akan damai dan harmonis.
Orang dewasa di sebelah kirinya ialah The Great Sprite, mangkuk di sebelah kirinya menyatakan petuah bahwa ia akan meletakkan senjata pada suku Hopi, garis vertikal sebelah kanannya ialah perbandingan waktu dan terhitung mulai puluhan ribu tahun lalu, sedangkan titik sentuh pada Great-Sprite menunjukkan waktu akan kembalinya Sang Mahapencipta.
Jalan spiritual yang dirintis oleh Great-Sprite terbagi menjadi jalan natural sedikit sempit yang harmonis dan kontinyuitas, serta jalan agak lebar ialah prestasi teknologi kulit putih. Garis vertikal di atas tanda salib itu menyatakan kedatangan orang kulit putih dan ajaran kristusnya, sedangkan oval kecil di bawah salib mewakili sirkulasi daripada jiwa yang kekal dan berkesinambungan.
(Menurut penulis semestinya lingkaran oval tersebut harus diartikan sebuah pembaharuan serta penyisihan jiwa, persisnya ialah penyisihan umat manusia atau air bah yang besar).
Empat orang anak kecil di atas garis atas merepresentasikan pertama; tiga dunia dulu dan sekarang. Maksud kedua menyatakan sebagian orang Hopi akan terpikat oleh peradaban lahir dari kulit putih sehingga menelusuri jalannya pula.
The Road of Sprite pada garis bawah ini terdapat dua lingkaran sekaligus diartikan “Tangan Great-Sprite sedang menggoncang dunia” (perang dunia pertama dan kedua). Tanda Swastika dalam matahari sebelah kiri gambar (mirip tanda buddhisme kuno namun, simbol Nazi itu terbalik arahnya dan memakai warna hitam sedangkan Buddha berwarna kuning).
Gambar Celtic Cross paling kanan dalam gambar (konon simbol ini berwarna merah dan dipakai kaum Kristiani sedangkan kaum Nazi pun sama tapi dengan warna hitam), simbol dua asisten dari Pahana, dan Pahana adalah saudara berkulit putih sejati dari orang Indian, sementara ada artikel lain yang menulisnya sebagai Bahani yang berarti orangnya Baha, ini dalam bahasa Indian pun sama artinya, kalau dieja dalam dua bahasa Inggris yang bersumber dari satu bahasa yang sama.
Garis kasar ketiga menyatakan sebelum teknologi manusia menuju ke jalan berlika-liku dan berpeluang terakhir untuk kembali ke alam. Lingkaran kecil berikutnya ialah Great Purification seperti apa yang disebut orang Hopi tadi yakni masa sekarang ini. Setelah itu padi-padian akan tumbuh subur dan Great-Sprite pun akan kembali lagi ke bumi. Jalan sprite itu kekal abadi.
(Sumber: Zhengjian.org)
9.3 Sajak Nujum dari Eropa Utara

Voluspa, The Prophecy of the Seerss, sebuah sajak nujum yang beredar di Eropa Utara (termasuk Jerman dan semenanjung Skandinavia). Sajak ini mengisahkan terbentuk dan musnah serta terbentuk kembalinya sebuah jagat raya.
Catatan: Sama seperti dongeng lainnya, karena penulis dan tahunnya itu tidak dapat ditelusuri lagi, maka pendapat umum mengatakan bahwa asal mulanya adalah dari masa kekuasaan Viking sebelum beredarnya agama Nasrani di Eropa Utara atau bahkan lebih awal lagi.
Sajak itu pertama-tama berkisah tentang asal-usul alam semesta, mencerminkan persepsi dunia masa lalu dari bangsa Eropa Utara. Dimulai dari kacaunya bumi ini, di antaranya muncul raksasa dan dewa, setelah itu ada manusia beserta seluruh isinya. Gambaran ini sama dan serupa dengan mitos yang ada di Tiongkok kuno. Bagian klimaks dari sajak itu mengenai ramalan Ragnarok “hari kiamatnya dewa-dewi”: Semua dewa akan mengalami petaka yang telah ditakdirkan Tuhan. Mereka terlibat pertarungan hidup mati dengan kekuasaan jahat di jagat raya ini, maka seisi bumi pun musnah.
Akhirnya muncul dewa Yang Maha-agung untuk mengadili semuanya itu. Dunia yang baru pun muncul, dewa-dewa termasuk yang sudah dibunuh akan hidup kembali, segala sesuatu menjadi damai dan indah. Tentu saja bagi manusia yang beruntung akan memasuki hari depannya.
“Pada saat itu tidak ada daratan, samudera dan ombak. Tidak berlangit maupun daratan besar, yang ada hanyalah pemandangan kosong sunyi di mana-mana, tidak ada pepohonan yang hijau dan tak ada kehidupan…. Anak Bur menopang daratan, menciptakan manusia serta daratan besar.
Matahari terbit dari selatan, tumbuh-tumbuhan tersebar luas di seluruh bumi…. Matahari hilang cahayanya, daratan pun tenggelam ke dasar samudera, bintang yang terbakar menyala jatuh dari langit, api yang berkobar-kobar membakar seisi alam. Saat itulah hari kiamat para dewa (Ragnarok)… bumi pertiwi muncul dan bersemi lagi dari dasar lautan, penuh dengan warna hijau dan kehidupan. Sawah ladang yang tak usah ditabur, akan tumbuh sendiri. Luka akan sembuh sendiri. Dewa-dewi pun balik kembali, menemukan kembali keindahan yang dimiliki pada zaman yang silam…. Ada seorang dewa yang serba bisa, dialah penguasa segalanya. Dia akan turun, turun ke tanah pengadilan para dewa.”
Terjemahan asli dari sajak bahasa Inggris-nya, pada naskah yang dicetak berlainan, terdapat perbedaan spesifikasinya, serta sulit untuk dimengerti. Namun pada terjemahan yang mana pun, secara garis besar hampir sama. Perbedaan detail dalam terjemahan yang berbeda akan mencerminkan pengertian yang berbeda dari si penerjemah terhadap sajak aslinya itu, tapi walaupun bagaimana tidak menyimpang jauh dari arti yang dimaksud, dari sini kita pun dapat mengetahui kesulitan penulis aslinya. Sebagai suatu ramalan, hal ini dapat dimengerti dan sudah seharusnya demikian. Dan bukan berarti si pengarang aslinya bermaksud mempersulit generasi belakangan.
Ada satu masalah lagi yaitu tingkat pengertian si penulis tentang fenomena yang terlihat olehnya. Karena jenis ramalan ini adalah bersifat mitologi, dan hanya bagi orang dalam kondisi-kondisi tertentu saja yang dapat berhubungan dengan ruang dimensi lain, maka roh mereka memperlihatkan pandangan di masa lampau dan masa sekarang serta peristiwa dalam pandangan ini yang mungkin terjadi di ruang dimensi lain. Sebelum suatu peristiwa terjadi, barang kali orang hanya dapat memahami secara simbolis saja.
Dalam ramalan itu dikisahkan tentang “kedatangan-Nya ke tempat pengadilan para dewa”, begitu menyinggung tentang pengadilan, banyak orang akan mengasosiasikannya dengan kisah dalam agama Kristen. Tapi sebenarnya legenda semacam ini banyak sekali, misalnya cerita di atas menyebutkan bahwa orang Maya dan Hopi menganggap saat ini adalah masa pensucian dan masa pembersihan, jadi apa yang dibersihkan dan disucikan adalah suatu hal yang tidak baik, jiwa atau hal yang jahat --sama seperti evolusi alam semesta yang mempunyai siklus dan metabolisme, setelah membersihkan kotoran dan gangguan, maka organisme baru akan menjadi sehat, segala sesuatu akan tertata dan beraturan. Dalam proses membedakan yang baik dan buruk atau kejahatan dan kebajikan, adalah juga mencerminkan suatu proses pengadilan.
Tidak sulit untuk mengetahui bahwa yang dikatakan dalam ramalan yang beredar di Eropa Utara dan ramalan Persia serta ramalan Hermes itu secara garis besar semuanya mempunyai persamaan yang sepadan. Pada prinsipnya menceritakan kemerosotan umat manusia yang menyebabkan bencana, namun kali ini dewa akan sekali lagi menolong manusia, dalam sebuah adu kekuatan antara yang benar melawan yang sesat untuk memberantas kejahatan, menunjukkan arah serta menciptakan masa depan sejati dan indah bagi seluruh makhluk hidup.
Banyak cerita ramalan di kalangan rakyat kedengarannya sangat mirip dengan cerita dongeng, tapi apa sebenarnya yang dikatakan oleh kemiripan yang menakjubkan ini? Apalagi munculnya perkataan “dongeng/mitos” ini justru karena manusia punya alasan tersendiri terhadap hal-hal yang tidak dapat dimengerti. “Mitos” itu bukan berarti tidak mungkin tidak akan muncul secara nyata ke tengah-tengah dunia manusia, saat itulah “mitos” pun akan menjadi kenyataan.
Ada yang berpendapat, jika ramalan dari bangsa-bangsa yang berbeda itu digabung menjadi satu, bukankah terkesan dibuat-buat? Sebenarnya tidak, kalau memang ramalan-ramalan sejarah itu diarahkan terutama pada bangsanya sendiri, maka ramalan yang ditujukan dunia hari ini justru ditujukan kepada seluruh dunia, karena berbagai macam aspek kehidupan umat manusia saat ini telah membaur menjadi satu, komunikasi dan lalu lintas yang maju telah membuat dunia ini menjadi sangat kecil. Ibaratnya, ramalan Tiongkok kuno seharusnya bercerita tentang kisah orang-orang di Tiongkok, tapi peristiwa yang terjadi atas diri orang Tiongkok di zaman sekarang ini, belum tentu terjadi di sana. Uraian bagi ramalan kuno dari bangsa yang berbeda terhadap dunia saat ini mempunyai banyak persamaan, semua ini bukanlah suatu kebetulan belaka.
sumber: http://yasirmaster.blogspot.com/2009/05/...serta.html

Voluspa, The Prophecy of the Seerss, sebuah sajak nujum yang beredar di Eropa Utara (termasuk Jerman dan semenanjung Skandinavia). Sajak ini mengisahkan terbentuk dan musnah serta terbentuk kembalinya sebuah jagat raya.
Catatan: Sama seperti dongeng lainnya, karena penulis dan tahunnya itu tidak dapat ditelusuri lagi, maka pendapat umum mengatakan bahwa asal mulanya adalah dari masa kekuasaan Viking sebelum beredarnya agama Nasrani di Eropa Utara atau bahkan lebih awal lagi.
Sajak itu pertama-tama berkisah tentang asal-usul alam semesta, mencerminkan persepsi dunia masa lalu dari bangsa Eropa Utara. Dimulai dari kacaunya bumi ini, di antaranya muncul raksasa dan dewa, setelah itu ada manusia beserta seluruh isinya. Gambaran ini sama dan serupa dengan mitos yang ada di Tiongkok kuno. Bagian klimaks dari sajak itu mengenai ramalan Ragnarok “hari kiamatnya dewa-dewi”: Semua dewa akan mengalami petaka yang telah ditakdirkan Tuhan. Mereka terlibat pertarungan hidup mati dengan kekuasaan jahat di jagat raya ini, maka seisi bumi pun musnah.
Akhirnya muncul dewa Yang Maha-agung untuk mengadili semuanya itu. Dunia yang baru pun muncul, dewa-dewa termasuk yang sudah dibunuh akan hidup kembali, segala sesuatu menjadi damai dan indah. Tentu saja bagi manusia yang beruntung akan memasuki hari depannya.
“Pada saat itu tidak ada daratan, samudera dan ombak. Tidak berlangit maupun daratan besar, yang ada hanyalah pemandangan kosong sunyi di mana-mana, tidak ada pepohonan yang hijau dan tak ada kehidupan…. Anak Bur menopang daratan, menciptakan manusia serta daratan besar.
Matahari terbit dari selatan, tumbuh-tumbuhan tersebar luas di seluruh bumi…. Matahari hilang cahayanya, daratan pun tenggelam ke dasar samudera, bintang yang terbakar menyala jatuh dari langit, api yang berkobar-kobar membakar seisi alam. Saat itulah hari kiamat para dewa (Ragnarok)… bumi pertiwi muncul dan bersemi lagi dari dasar lautan, penuh dengan warna hijau dan kehidupan. Sawah ladang yang tak usah ditabur, akan tumbuh sendiri. Luka akan sembuh sendiri. Dewa-dewi pun balik kembali, menemukan kembali keindahan yang dimiliki pada zaman yang silam…. Ada seorang dewa yang serba bisa, dialah penguasa segalanya. Dia akan turun, turun ke tanah pengadilan para dewa.”
Terjemahan asli dari sajak bahasa Inggris-nya, pada naskah yang dicetak berlainan, terdapat perbedaan spesifikasinya, serta sulit untuk dimengerti. Namun pada terjemahan yang mana pun, secara garis besar hampir sama. Perbedaan detail dalam terjemahan yang berbeda akan mencerminkan pengertian yang berbeda dari si penerjemah terhadap sajak aslinya itu, tapi walaupun bagaimana tidak menyimpang jauh dari arti yang dimaksud, dari sini kita pun dapat mengetahui kesulitan penulis aslinya. Sebagai suatu ramalan, hal ini dapat dimengerti dan sudah seharusnya demikian. Dan bukan berarti si pengarang aslinya bermaksud mempersulit generasi belakangan.
Ada satu masalah lagi yaitu tingkat pengertian si penulis tentang fenomena yang terlihat olehnya. Karena jenis ramalan ini adalah bersifat mitologi, dan hanya bagi orang dalam kondisi-kondisi tertentu saja yang dapat berhubungan dengan ruang dimensi lain, maka roh mereka memperlihatkan pandangan di masa lampau dan masa sekarang serta peristiwa dalam pandangan ini yang mungkin terjadi di ruang dimensi lain. Sebelum suatu peristiwa terjadi, barang kali orang hanya dapat memahami secara simbolis saja.
Dalam ramalan itu dikisahkan tentang “kedatangan-Nya ke tempat pengadilan para dewa”, begitu menyinggung tentang pengadilan, banyak orang akan mengasosiasikannya dengan kisah dalam agama Kristen. Tapi sebenarnya legenda semacam ini banyak sekali, misalnya cerita di atas menyebutkan bahwa orang Maya dan Hopi menganggap saat ini adalah masa pensucian dan masa pembersihan, jadi apa yang dibersihkan dan disucikan adalah suatu hal yang tidak baik, jiwa atau hal yang jahat --sama seperti evolusi alam semesta yang mempunyai siklus dan metabolisme, setelah membersihkan kotoran dan gangguan, maka organisme baru akan menjadi sehat, segala sesuatu akan tertata dan beraturan. Dalam proses membedakan yang baik dan buruk atau kejahatan dan kebajikan, adalah juga mencerminkan suatu proses pengadilan.
Tidak sulit untuk mengetahui bahwa yang dikatakan dalam ramalan yang beredar di Eropa Utara dan ramalan Persia serta ramalan Hermes itu secara garis besar semuanya mempunyai persamaan yang sepadan. Pada prinsipnya menceritakan kemerosotan umat manusia yang menyebabkan bencana, namun kali ini dewa akan sekali lagi menolong manusia, dalam sebuah adu kekuatan antara yang benar melawan yang sesat untuk memberantas kejahatan, menunjukkan arah serta menciptakan masa depan sejati dan indah bagi seluruh makhluk hidup.
Banyak cerita ramalan di kalangan rakyat kedengarannya sangat mirip dengan cerita dongeng, tapi apa sebenarnya yang dikatakan oleh kemiripan yang menakjubkan ini? Apalagi munculnya perkataan “dongeng/mitos” ini justru karena manusia punya alasan tersendiri terhadap hal-hal yang tidak dapat dimengerti. “Mitos” itu bukan berarti tidak mungkin tidak akan muncul secara nyata ke tengah-tengah dunia manusia, saat itulah “mitos” pun akan menjadi kenyataan.
Ada yang berpendapat, jika ramalan dari bangsa-bangsa yang berbeda itu digabung menjadi satu, bukankah terkesan dibuat-buat? Sebenarnya tidak, kalau memang ramalan-ramalan sejarah itu diarahkan terutama pada bangsanya sendiri, maka ramalan yang ditujukan dunia hari ini justru ditujukan kepada seluruh dunia, karena berbagai macam aspek kehidupan umat manusia saat ini telah membaur menjadi satu, komunikasi dan lalu lintas yang maju telah membuat dunia ini menjadi sangat kecil. Ibaratnya, ramalan Tiongkok kuno seharusnya bercerita tentang kisah orang-orang di Tiongkok, tapi peristiwa yang terjadi atas diri orang Tiongkok di zaman sekarang ini, belum tentu terjadi di sana. Uraian bagi ramalan kuno dari bangsa yang berbeda terhadap dunia saat ini mempunyai banyak persamaan, semua ini bukanlah suatu kebetulan belaka.
sumber: http://yasirmaster.blogspot.com/2009/05/...serta.html




Tidak ada komentar:
Posting Komentar